jump to navigation

Kupu-kupu April 20, 2009

Posted by gondhess in cerita pendek.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Kupu-kupu di Serambi Masjid

Entah kenapa malam itu aku tiba-tiba kepengin sholat Isya berjamaah di masjid kompleks. Biasanya paling-paling hanya maghrib saja aku ikut berjamaah – kalau pulang kerja waktunya masih sempat,  sesudah itu pulang ke rumah dan makan malam. Ketika tiba waktunya adzan untuk sholat Isya, biasanya kami sekeluarga sedang asyik di depan televisi, dan rasanya malas sekali untuk bangkit dari sofa.
Saat itu, kumandang adzan Isya rasanya kedengaran lain sekali. Seperti suara memanggil-manggil dari tempat yang jauh. Aku hampir merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan kepadaku seorang. Tentu saja ini hanya perasaanku saja, tapi yang jelas aku seperti merasa tergugah. Tiba-tiba ada perasaan cemas atau gelisah yang menghantui. Tak jelas mengenai hal apa, tetapi mengusik sekali perasaanku.
Aku bangkit dari depan televisi dan ke kamar untuk ganti baju dan memakai sarung serta peci. Aku keluar kamar dengan agak bergegas.
“Mau ke mana, Pa..?” istriku bertanya sambil memainkan remote control.
“Ke masjid. Sholat Isya, “jawabku singkat sambil menyampirkan sajadah ke pundak.
“Oo.. Kirain mau kenduri….,” cetus anakku yang lagi asyik menatap layar kaca.
“Hush! Kenduri aja yang dipikirin. Yuk ikut ke masjid.!?”
“Ogah ah. Nggak ada temennya,” jawabnya cuek.
Ia benar juga. Hampir tak ada anak sebayanya yang pada waktu Isya begini datang ke masjid. Semua anak-anak sedang asyik dengan acara tivinya masing-masing. Apa boleh buat. Sambil menutup gerbang aku masih berpikir-pikir tentang anak-anak sekarang. Teman bermain dan belajar mereka hanya tivi. Masih untung kalau menontonnya sempat didampingi orang tuanya. Tapi pada jam-jam segini banyak orang tua yang masih belum sampai ke rumahnya. Tiba-tiba aku merasa bersyukur sekali mendapat pekerjaan yang agak dekat rumah sehingga lebih punya banyak waktu untuk mengawasi anak-anak. Meskipun hasilnya masih jauh dari harapan.
Kumandang adzan terus memanggil. Marilah kita sholat. Marilah kita memperoleh keuntungan. Aku bergegas berjalan sepanjang jalan kompleks. Letak mesjid itu berada di tengah-tengah perumahan kami. Hanya dua blok saja dari rumah yang aku huni. Di depan sudah nampak serambi masjid yang terang benderang oleh lampu neon. Tidak kelihatan banyak orang di sana.
Setelah ambil air wudhu, kumasuki rumah ibadah ini dengan hati yang lebih jernih. Benar saja. Jumlah orang yang datang masih dapat dihitung dengan jari. Beberapa adalah tetanggaku yang aku kenal. Yang lainnya hanya pengurus dan ta’mir mesjid. Satu dua orang yang nampaknya dalam perjalanan. Ketika muadzin melantunkan iqomat, hanya satu baris saja shaf dibelakang imam. Itu pun tidak penuh.
Usai sholat, aku tidak langsung pulang. Duduk-duduk dan ngobrol dengan Pak Haji yang jadi Imam dan beberapa orang tetanggaku. Jamaah lainnya sudah langsung pergi begitu sholat selesai.
Masjid yang besar dan terkesan agung itu jadi nampak lengang oleh kami berempat. Kaligrafi-kaligrafi di tembok bagian atas seperti kesepian ditimpa cahaya. Ayat-ayat suci tersebut kini nampak seperti kurang wibawa dihadapkan pada zaman yang semakin bergegas. Obrolan kami bergaung ke sudut-sudut mesjid, memecah kelengangan.
Beberapa menit kemudian kami merasa harus pamit, saling bersalaman dan pulang ke rumah masing-masing. Petugas ta’mir mulai mematikan kipas angin dan lampu-lampu di dalam. Aku keluar melalui serambi depan yang sudah sunyi. Lampu-lampu di sini tidak dimatikan. Aku mencari-cari sandalku di sebuah sudut.
Di lantai keramik teras, persis sebelah atas tempat sandal kutaruh, kelihatan seekor kupu-kupu hitam, ah mungkin bukan hitam tapi karena sebelah sini kurang terang sehingga kupu-kupu itu kelihatan hitam seperti bayangan. Aku tak hendak mengusiknya, ia mungkin sedang istirahat setelah terbang kesana-kemari.
Aku baru merasa sedikit aneh, saat sedang mengenakan sandal, jarak kami begitu dekat, tetapi kupu-kupu itu diam saja. Tak merasa takut atau terusik. Ia mengepakkan sayapnya perlahan-lahan. Naluri ‘jawa’ku segera bekerja : apakah ini bukan kupu-kupu biasa, atau ini sebuah pertanda?
Sering dulu aku menertawakan ‘naluri’ku sendiri. Sebagai seorang yang berpendidikan dan hidup di kota, aku merasa harus hidup secara rasional dan membuang jauh-jauh segala kebiasaan kuno dan tak masuk akal. Namun diam-diam, karena pernah besar di kampung, perasaan antara percaya dan tidak percaya sering berdebat sendiri dalam pikiranku. Meskipun tidak sepenuhnya percaya, seringkali insting semacam itu menolong dalam perjalanan hidupku. Bagaimanapun, orang-orang dulu selalu membaca gerak-gerik dan gejala-gejala alam sebagai pertanda yang bisa dipercaya. Terutama dikampung-kampung, dimana hidup mereka masih dekat dan bersatu dengan alam. Seperti sebuah harmoni yang saling mengisi. Jelas hal tersebut tak sepenuhnya salah dan irasional. Paling tidak menolong dan memberi peringatan agar lebih waspada dan hati-hati dalam mengarungi kehidupan ini.
Sambil kuamati sekilas dan yakin bahwa itu hanya sebuah kupu-kupu, tidak lebih, aku menyeret sandalku dan berjalan pulang. Terutama karena tiba-tiba saja terngiang nyanyian Iwan Fals dalam benakku, Kupu-kupu Hitam Putih, yang bercerita tentang sebuah ‘pelajaran’ dari alam.

****

Sejak saat itu, setiap ada kesempatan aku selalu mengikuti sholat Isya berjamaah di masjid. Dan setiap kali pula aku berjumpa dengan kupu-kupu yang sama. Mula-mula karena merasa ada ‘naluri’ tadi, esoknya aku berniat untuk kembali sholat Isya ke masjid. Untuk membuktikan apakah aku akan menemukan kupu-kupu itu lagi. Benar saja, hari berikutnya ia menclok di ujung keset serambi, dan hampir-hampir terinjak kakiku. Esoknya lagi, ia nempel pada tiang dan terlihat saat aku sedang memakai sandal hendak pulang. Begitulah setiap kali aku hendak pulang dari masjid. Hal ini membuat aku penasaran dan aku semakin rajin saja datang ke masjid.
Hal ini menyebabkan istriku keheranan.
“Kok Papa rajin bener ke masjid sekarang?”
Itulah zaman sekarang. Ada orang rajin ke mesjid malah menimbulkan pertanyaan. Tetapi aku maklum saja. Soalnya sebelum-sebelum ini memang aku jarang ikut berjamaah sholat Isya.
“Yaah… Alhamdulilah. Gara-gara ada kupu-kupu itu,” ujarku sekenanya.
“Apa? Kupu-kupu? Di masjid lagi….” istriku makin keheranan.
Lalu kuceritakan semua yang kualami belakangan ini saat usai sholat Isya berjamaah. Istriku hanya tersenyum-senyum dan menganggap aku sedang menceritakan sebuah lelucon. Akhirnya aku juga turut senyum-senyum sendiri. Barangkali aku yang keterlaluan menanggapi perasaanku sendiri, padahal yang kualami itu sebenarnya hal yang biasa saja, tak ada istimewanya sama sekali. Tapi toh aku bersyukur bahwa kupu-kupu itu bisa menyebabkan aku rajin datang ke masjid.
Beberapa waktu kemudian, tugas-tugas pekerjaan membuat aku lembur dan baru sampai ke rumah sudah agak malam. Dengan sendirinya acara sholat ke masjid menjadi terganggu. Sudah beberapa hari ini aku absen. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari rutinitas melihat kupu-kupu di serambi masjd itu.
Suatu hari, aku sampai rumah sudah jam delapan malam. Setelah mandi, sholat dan makan malam aku bergabung dengan anggota keluarga lainnya di depan televisi. Sebenarnya aku bosan melihat acara televisi yang itu-itu melulu, tapi apa boleh buat, anakku selalu pegang kuasa di depan televisi kalau kita tak mau mendengar rengekan-rengekannya. Ia sudah kelas satu sekolah dasar, tapi karena anak satu-satunya, ia memang agak manja. Istriku, pembantu dan keponakanku yang tinggal bersamaku semua memanjakannya. Sambil iseng lalu kubuka-buka sebuah majalah.
“Pah.. pah… tadi ada kupu-kupu, lho.. Menclok di pintu depan…,” ujar anakku itu sambil menggoyang-goyang tanganku yang sedang memegang majalah. Rupanya acara kesayangannya sedang dipotong iklan hingga dia mengalihkan perhatian dari layar kaca.
“Kupu-kupu? Bagus, nggak?”
“Nggak begitu, sih. Abis warnanya hitam. Tapi besar lho, Pah…”
“Seberapa besarnya..? Kok nggak ditangkap..?”
“Nggak. Takut, ah! Lagian kata mama nggak boleh ditangkap. Katanya kupu-kupu itu sedang nyari Papa….”
Aku terkejut. Teringat kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu. Juga absen-absenku dari masjid beberapa waktu ini. Kulirik istriku, ia tersenyum-senyum penuh arti. Sungguh aku tidak bisa menebak dengan persis arti senyumannya itu.
“Yaah.. Mungkin. Tapi bisa jadi sedang nyari mamamu juga…” ujarku sambil melirik kembali istriku. Ia tersenyum makin lebar.
“Kok begitu sih, Pa…?”
“He..he..he… Kupu-kupu itu kan habis terbang jauh. Ia capek dan ingin istirahat. Makanya menclok di pintu. Kalau ia kita anggap seperti tamu, tentu yang dicari kan papa atau mama…?”
Anakku tak menanggapi lebih lanjut. Iklan telah selesai dan acara kesayangannya kembali berlangsung. Konsentrasinya telah beralih ke televisi kembali.
Malamnya ketika mau tidur, aku menanyakan kembali perihal kupu-kupu itu kepada istriku. Karena sudah disergap hawa kantuk, istriku tak menanggapi dengan serius. Lagipula dari awal dia memang tetap menganggap itu sebuah lelucon. Ketika kutanya kenapa dia bilang kalau kupu-kupu itu mencari aku, dia menjawab,
“Yah. Abis Papa kan sekarang udah jarang ke mesjid lagi. Padahal dulu kan rajin gara-gara kupu-kupu itu? Kupu-kupu itu kangen kali sama Papa. Huaaahhmm… Udah ah tidur. Sudah malam ini.”
Tapi aku tidak bisa tidur. Kupu-kupu itu memenuhi pikiranku. Berterbangan kian kemari mengisi ruang-ruang dalam ingatanku. Ribuan jumlahnya, mengepak-kepakkan sayapnya yang berwarna hitam keabu-abuan. Menyeretku terbang dan kemudian menjatuhkanku dalam dunia yang hitam pekat. Gelap!
Aku terjaga. Kulihat istriku masih tidur dengan nyenyak. Malam sedang bergeser perlahan. Lampu kamar yang remang melontarkan bayangan-bayangan ke dinding dan langit-langit. Seakan mengurungku diam-diam. Sulit sekali memejamkan mata kembali. Udara terasa pengap. Aku bangkit dan ke dapur minum air putih. Udara dingin sekali, sementara di jam larut ini terasa sangat hening dan sunyi.
Akhirnya aku ke kamar mandi, buang air kecil sekaligus ambil air wudhu. Mudah-mudahan dengan tahajud mampu mengusir kupu-kupu hitam dari benakku.

*****
Esok harinya, aku bisa pulang kerja lebih cepat, meski tiba di rumah pas maghrib. Selesai makan malam, aku bersiap-siap hendak ke masjid untuk jamaah sholat Isya. Istriku sudah senyum-senyum saja sembari membereskan meja makan. Tak lama kemudian terdengar adzan bekumandang.
“Tuh, Pa. Sudah adzan. Salam buat si kupu-kupu ya?” bisik istriku cengengesan sambil membawa piring kotor ke dapur. Aku tidak menanggapi gurauannya.
Aku bergegas berangkat. Ada harap-harap cemas, ada semacam rasa gelisah, juga sedikit rasa takut. Persis seperti dulu waktu aku pertama kali menemukan kupu-kupu itu.
Masjid masih juga terasa sepi dan lengang, meski terang benderang. Tidak banyak orang yang datang, tak ada yang berubah. Yang kelihatan juga orang-orang yang sama. Seperti biasanya, makmum hanya satu shaf dan tidak penuh.
Usai sholat dan salam-salaman, aku langsung pamit. Entah kenapa yang lain juga turut bergegas pulang. Barangkali ada keperluan masing-masing. Seperti biasanya aku berjalan ke serambi. Di situ masih terang benderang, dan nampak ada seorang petugas masjid sedang menyapu. Aku tersenyum menyapa,
“Kok nyapu malam-malam?”
“Ah nggak. Ini ada kupu-kupu mati, ntar terinjak kaki. Jadi saya bersihkan saja.”
Aku terkesiap. Kupu-kupu? Mati?
“Kupu-kupu? Coba saya lihat. Bener sudah mati!?” Aku cepat-cepat menghampirinya. Dibawah sapunya, tergolek kupu-kupu hitam. Seperti kupu-kupu yang selama ini aku jumpai. Diam tak bergerak dan nampaknya memang sudah mati. Aku merasa sedih, menyesal. Aku merasa kecewa sekali. Merasa berdosa atau bersalah tapi juga tak jelas benar ujung pangkalnya. Yang jelas aku merasa seakan-akan ada yang rontok satu per satu dari jiwaku. Sebuah lambang perlahan-lahan turun menciptakan semacam bendera setengah tiang.
Aku mengais-ngais perasaanku, mencari-cari ‘naluri’ku yang biasanya tanggap dan bisa membaca setiap peristiwa di depan mata. Aneh. Perasaanku jadi kosong. Serasa nol. Sebuah jalan yang lebar telah membentang tapi aku merasa ketakutan disergap kesendirian. Sunyi sekali malam ini.
Aku segera mengontrol diriku kembali. Dengan rasa kecewa aku berjalan pulang. Malam itu aku kembali sulit tidur. Bayangan kupu-kupu yang tergolek tak bergerak kembali memenuhi kepalaku. Kupu-kupu itu kini tak bisa terbang kembali. Ribuan kupu-kupu yang mati terus bertumpuk seperti onggokan sampah. Petugas mesjid dengan setia menyapu dan membersihkannya. Namun setiap saat tumpukan itu menggunung kembali. Bagai daun-daun yang rontok berguguran di tiup angin. Setiap disapu, setiap itu pula bertumpuk kembali. Namun petugas itu melakukannya dengan tenang saja, tanpa ada rasa capek atau kesal. Tak ada perubahan raut wajahnya. Seperti sebuah rol film yang diputar berulang-ulang. Lama-lama aku melihat bahwa penyapu itu tak lain adalah diriku sendiri.
Aku menyapu setiap kupu-kupu yang menggeletak dan mati. Bertumpuk-tumpuk selalu teronggok kembali. Aku terus bekerja keras tanpa suara. Tanganku makin pegal dan capek. Rasanya sudah berjam-jam lantai serambi ini kubersihkan, tapi setiap berbalik sudah kotor lagi oleh bangkai kupu-kupu yang berserakan. Aku memejamkan mata. Tetapi kupu-kupu terus bergelimpangan mengotori lantai. Samar-samar, diantara kapu-kupu yang kusapu rasanya aku melihat beberapa silhuet membentuk raut yang kukenal. Wajahnya itu! Kepalanya itu! Tak lain tak bukan adalah wajah anak dan istriku, juga teman-teman jamaah di masjid sedang terkekeh-kekeh menertawaiku! Aku membuang sapuku.
Tulisan kaligrafi pada dinding sebelah atas yang biasanya indah serasa memelototiku. Seakan-akan menyemprotkan makian-makian pedas. Pintu utama masjid yang terbuat dari panel kayu berukir tiba-tiba seperti mulut raksasa yang hendak mengunyahku lumat. Aku berlari jatuh bangun dan terseok-seok. Terjerembab di halaman masjid, aku tak memikirkan lagi sandalku yang tertinggal. Terdengar bunyi gemuruh. Nampaknya seluruh isi masjid sedang menertawai kebodohanku. Aku istighfar beberapa kali.
Aku terbangun gelagapan. Nafasku masih memburu. Setelah agak tenang aku bisa melirik jam dinding di tembok depanku. Lewat tengah malam. Kulirik istriku, masih lelap seperti biasanya. Rasanya konyol sekali mimpi barusan. Tapi dalam hati yang paling dalam, aku sangat bersyukur. Masih diingatkan, meski dengan cara yang sedikit aneh.
Aku bangkit ke kamar mandi, hendak ambil air wudhu. Aku ingin tahajud untuk memanjatkan rasa syukurku, juga penyesalanku atas kesalahan yang kulakukan. Persis tepat di atas kran tempat wudhu, ada kupu-kupu hitam bertengger. Sayapnya yang lembut berkepak perlahan sekali. Aku terkesiap. Kemudian tersenyum kecut.
Kulirik lobang angin di tembok sebelah atas. Sudah beberapa kali istriku mengingatkan aku untuk mengganti kasa nyamuk yang sudah sobek dan bolong-bolong, tapi belum sempat kulakukan. Bunyi percikan air yang menyemprot lantai memecah kesunyian. Kupu-kupu itu kaget, lalu terbang berputar-putar dan melalui lobang angin keluar menembusi kegelapan malam.

Rawabebek, 17 Juni 2003

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.