Nobel April 20, 2009
Posted by gondhess in cerita pendek.Tags: bumbu, cerita, imajinasi, jas, kalimat, kata, keringat, kesusasteraan, nobel, peluk, pendek, sastra, tulis, tulisan, tuxedo
1 comment so far
Nobel
Sebuah cerita pendek telah selesai aku tulis. Dua tiga jam terakhir ini aku mengurung diri di kamar, mengetik dengan sebuah PC tua yang sudah agak usang. Tadinya aku ingin merekonstruksi beberapa peristiwa yang pernah aku alami, plus sedikit bumbu imajinasi, pasti akan menghasilkan cerita yang menarik.
Tapi apa boleh buat, daya ingatku ternyata pendek sekali. Hampir semua yang aku ingat hanya potongan-potongan kecil serupa mozaik. Ketika hendak kusatukan dengan sebuah alur yang runut, semua terasa menjadi berantakan. Masing-masing mozaik mendesak untuk bercerita sendiri, lepas dari yang lainnya. Tiba-tiba tanganku menjadi gagap dan gemetaran, tak bisa kukendalikan meski hanya untuk mengetik satu hurufpun.
Kupejamkan mata dan kupencet sembarang tombol dengan sedikit membayangkan letak huruf-hurufnya. Ketika beberapa huruf kurasa telah aku rangkai, kubuka mataku. Sebuah kalimat telah tersusun disana! Menarik sekali. Rupa-rupanya energi dan semangat menulisku telah menemukan bentuknya sendiri.
Kali ini tanpa mata tertutup, kubiarkan jari-jariku menari di atas keyboard. Kalimat demi kalimat terbentuk bersambungan. Lama-lama seperti mempunyai arti tersendiri, dengan tak usah aku mencoba mengontrolnya.
Aku menjadi bersemangat sekali. Kuempos seluruh enerji pikiranku. Keringat mulai mengucur, paragraf demi paragraf telah tersusun. Kubaca sekilas, aku merasa tidak malu untuk kagum terhadap diriku sendiri. Ini bagus sekali. Bisa menjadi karya sastra yang menghebohkan. Sebuah permainan imajinasi yang sedikit surealistis, tapi toh masih bisa terbaca. Pada bagian-bagian tertentu bahkan membentuk kata-kata indah serupa puisi, atau kata-kata mutiara.
Halaman demi halaman telah penuh. Tak ada dialog di sana, hanya paparan kata-kata dan kalimat. Kalaupun ada pertanyaan dan jawaban, semua dilakukan dengan sunyi. Tak perlu tanda petik, tanda tanya atau tanda seru dengan berulang-ulang. Semua mengalir dengan lancar. Sempat terpikir pula olehku untuk tidak menggunakan titik atau koma, biar lebih canggih. Toh jariku tak hendak berkelit ketika berkali-kali aku memencet titik atau koma. Jadi memang seharusnya demikian. Aku tetap tak bisa sepenuhnya mengontrol. Biarlah seperti apa adanya saja, pikirku.
Menginjak halaman keempat aku memutuskan untuk memegang kedali kembali. Ini harus selesai, harus diakhiri. Kalau tidak, aku harus mengetik sepanjang waktu untuk sebuah kisah yang tidak pernah selesai. Kisah yang tidak selesai tak akan pernah dibaca orang. Padahal aku bermaksud kepingin pamer, setidak-tidaknya aku mampu juga menulis. Mungkin tak akan pernah tercipta karya sehebat milik Shakespeare dari tanganku, tapi aku masih bisa membuat tulisanku sendiri. Begitu sebuah kata-kata bijak yang pernah kudengar.
Pada kalimat yang kuanggap penghabisan, aku memberi titik sebanyak lima kali, semacam gaya atau sekedar iseng, bahwa akhir cerita masih cukup mengambang, agar pembaca dibiarkan menggunakan imajinasi masing-masing untuk menutup cerita sesuai kehendaknya. Atau bisa juga sekedar membuat mereka penasaran. Meskipun sebagai penulis ceritaku sendiri aku berhak menentukan arah, toh dalam batas-batas tertentu sering membuat aku tak berdaya. Sebuah kisah, bagaimanapun tak akan pernah berdiri sendiri, apalagi cuma sebuah tulisan.
Cuma, katamu? Cuma sebuah tulisan?
Kugulung layar kembali ke halaman awal. Kubaca kembali dengan lebih seksama, sambil membetulkan huruf-huruf yang terpental kesana-kemari. Aku terbius. Aku terpesona. Seperti sedang membaca sebuah puisi yang panjang sekali. Seluruh kata-katanya merasuk sukma. Aku mabuk kepayang. Dadaku bergemuruh dahsyat. Tak bisa dipungkiri, ada semacam kekaguman atau kebanggaan sedang melanda diriku. Ini sebuah masterpiece!
Kupanggil teman kosku yang sedang asyik dengan buku dan minicompo di kamar sebelah. Tak ada respon. Rupa-rupanya ia sedang begitu asyik hingga mempersetankan sekitarnya. Aku kembali memanggil dengan berteriak. Berkali-kali. Nampaknya aku juga tak begitu bisa lagi mengendalikan diriku yang sedang ekstase. Akhirnya, dengan ogah-ogahan merasa terganggu ia memasuki kamarku.
“Ada apa, sih?” tanyanya sedikit jengkel.
“Nih, baca. Masterpiece! Hasil tulisanku sendiri,” ujarku bangga.
“Huh.. kirain apa. Akhirnya kamu berhasil menulis juga, ya? Coba lihat,” ia langsung duduk di depan meja komputerku.
Membaca kalimat demi kalimat, ia mengernyitkan dahi. Aku tersenyum-senyum senang di belakangnya. Tulisanku adalah karya yang serius, bukan sekedar cerita biasa. Hasil olahan enerji pikiranku yang sempat mengeluarkan bertetes-tetes keringat dingin.
Tak lama kemudian ia berbalik, memandangku sambil mesam-mesem.
“Gimana? Bagus, nggak?” Aku tak sabar mendengar komentarnya.
Ia cengengesan. Aku jadi penasaran. Ia seperti barusan membaca sesuatu yang konyol sekali.
“Nggak ngerti aku. Maksudnya apa sih ini?” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maksudnya bagaimana maksudmu?” tanyaku tidak tanggap.
“Ya ini. Tulisanmu ini. Ini sebuah cerpen, puisi, atau apa? Berantakan sekali.”
Aku sedikit jengkel tulisanku dibilang berantakan. Lagipula dengan enaknya dia bilang soal kategori-kategori. Sejak dulu aku tidak begitu sreg dengan segala macam penggolongan-penggolongan. Mau dibilang cerpen, boleh. Puisi, oke! Novel, silahkan. Apa saja. Yang penting sebuah tulisan yang bisa dibaca dan membangitkan gairah atau menggugah, itu adalah karya sastra. Apa urusannya dengan sekat-sekat pembatasan itu?
“Baca lagi dong, dengan lebih seksama. Yang serius! Buang logika-logika dan persepsi kamu dengan segala macam tai kucing itu…” aku mencoba membujuknya untuk membaca lagi.
“Lho, saya serius! Sungguh. Tapi saya tidak bisa menangkap apa-apa, selain rentetan kalimat dan kata-kata yang tidak nyambung…”
Wah! Bercanda dia. Bagimana mungkin ia tak bisa menangkap seribu pesona seperti yang barusan aku rasakan? Padahal dia bukanlah orang yang ‘buta’ sastra. Paling tidak bacaan-bacaannya selama ini cukup berbobot dan membutuhkan semacam daya pikir yang ‘lebih’. Ia ‘melahap’ karya Danarto, Putu Wijaya dengan enteng, menelan tulisan Budi Dharma, Dee, Ayu Utami, Asneli Lutan dengan sekali reguk. Belum lagi yang dari luar, mulai Neruda, Kundera, Garcia Marques, dan lain-lain yang bisa bikin kepala puyeng.
Pasti ada yang tidak beres ini. Mungkin dia sengaja mengujiku dengan kritikan. Atau dia pura-pura saja untuk mempermainkan aku. Atau, jangan-jangan dia malah ngiri dengan keberhasilanku menciptakan sebuah masterpiece! Lalu timbul rasa sirik, tak mau mengakui bahwa temannya yang satu ini ternyata hebat juga!
“Jangan gitu, dong! Baca dengan tenang. Resapkan…”
“Sudah. Sudah tahu. Mungkin sedikit bagus bila konstruksi dan alurnya lebih fokus. Ini hanyalah sekumpulan kata-kata atau kalimat. Tidak lebih. Bagaimana kalau kamu beri sedikit cerita yang tegas. Bumbui dengan beberapa dialog dan beri akhir yang mengagetkan.”
Sudah jadi pakar sastra rupanya dia. Aku jengkel sekali, hasil karyaku tak berharga sama sekali di matanya. Ia bersikukuh dengan logika yang konvensional, sementara aku bersikeras merasa menciptakan genre yang sama sekali baru.
“Enak saja! Nggak bisa dong! Masak harus diubah seperti itu. Itu sama saja membikin tulisan yang sama sekali baru,” ujarku ngeyel.
“Ya sudah,” katanya sambil bangkit. Di pintu, sebelum keluar kamar ia ngoceh lagi, “kalau kamu kepingin dibaca orang, kamu nggak bisa memaksakan kehendakmu sendiri saja. Perhatikan persepsi orang-orang juga. Itu baru bagus.”
Ia menutup pintu.
Ia membuka pintu dan nongol lagi. “Dan…,” katanya sambil memasang earphone, “jangan ganggu aku untuk hal-hal yang konyol seperti ini!”
Gregg! Pintu tertutup kembali.
Aku jengkel sekali. Hatiku panas. Merasa dilecehkan. Ingin marah-marah. Ingin kutimpuk saja kepala dan mulut yang sombong itu dengan asbak. Tapi apa boleh buat, harus marah kepada siapa? Ia sudah menghilang di balik pintu. Sebuah karya masterpiece serasa menjauh melayang-layang tertiup angin. Gairahku perlahan-lahan memadam.
Tetapi kata-kata dan kalimat di monitor seperti menyeretku kembali. Seakan-akan berusaha menghiburku. Benar. Karya yang berat dan hebat memang tak terlalu mudah untuk dipahami. Agak sulit untuk dimengerti dan ditangkap isinya. Ini bukanlah hiburan, bukan pula pelipur lara, atau apalagi sebagai pengisi waktu senggang. Dengan hanya membaca sekali atau sekilas, cuma akan memperoleh nol. Butuh kesiapan mental dan pikiran yang terbuka untuk menerima. Seperti Jazz. Sekali mendengar, akan terasa seperti kumpulan bunyi-bunyian yang kacau sekali. Tapi bila didengarkan dalam suasana yang pas, hati yang sedang mood, akan terasa bahwa betapa Jazz adalah sesuatu yang hidup!
Kuperhatikan lagi karyaku dilayar komputer. Benar juga. Bila dibaca dengan mengedepankan logika, memang terasa agak berantakan. Kalimat-kalimat terkadang saling berkait berkelindan. Antara yang satu dengan yang lainnya sering tak berhubungan. Kata yang satu dengan kata lainnya saling berjumpalitan. Masing-masing berdebat memperebutkan tempat. Sebuah titik dan beberapa koma berkelahi menyetop kalimat-kalimat yang berbaris tak rapi. Kata-kata ‘dan’ dan ‘atau’ berkejar-kejaran saling pentung dengan tanda seru. Kata-kata ‘damai’ dan ‘indah’ berjaga-jaga di setiap sudut, masing-masing memegang tanda tanya yang berfungsi sebagai senjata seperti sebuah celurit. Semua kata-kata saling piting, berantem dengan beringasnya. Sebuah kalimat yang tadinya berfungsi sebagai judul, seakan berenang ke sana-kenari mengaduk-aduk semuanya. Layar jadi kacau balau. Seru sekali. Kacau sekali. Seperti perang Amerika menyerbu Irak.
Aha! Ini dia, seruku dalam hati. Sebuah genre baru sastra memang benar-benar telah lahir. Sebuah sastra yang membebaskan. Bebaskan kata-kata dari belenggu makna. Selama ini kita sudah terlalu sibuk memelintir kata-kata, hingga maknanya semakin lama semakin kabur dan carut marut. Biarkan kata dan kalimat mengambil sikap sendiri. Temanku itu, bersama orang-orang lainnya memang belum siap membaca karyaku. Mereka masih terbelenggu oleh paradigma-paradigma lama yang sudah berlumut dan bangkotan. Mereka belum siap memasuki era baru. Mereka masih asyik terbius untuk bernikmat-nikmat dibalik tipuan kata-kata manis.
Diam diam, kurapikan karyaku itu. Kemudian kucetak dan kubundel rapi. Dengan diam-diam pula kukirim ke panitia penghargaan Nobel sastra di sebuah negara Eropa.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat balasan. Tanpa banyak cingcong, intinya aku diundang ke sana untuk menerima penghargaan. Apalagi kalau bukan hadiah Nobel di bidang sastra. Mereka menganggap aku telah menciptakan pembaharuan yang dramatis di bidang kesusateraan. Aku sedikit tidak suka pada penggunaan kata-kata dramatis tadi. Aku lebih suka memakai kata-katayang lebih tajam, misalnya drastis, tapi biarlah. Yang penting hadiah Nobel sudah di tangan.
Singkat kata, digelarlah upacara pemberian penghargaan itu. Tanpa koar-koar, tanpa wartawan, juga tanpa pejabat-pejabat yang katanya berwenang, kini aku sudah berada diantara orang-orang bule yang berjas dan berdasi rapi. Banyak pula yang memakai tuxedo. Aku sendiri merasa agak kedodoran dengan stelan sewaan. Merasa ngeper sekali. Seperti liliput di tengah-tengah para gulliver. Apalagi tempat penyelenggaraan acara itu mewah dan megah sekali. Sebuah tempat yang hanya aku bisa bayangkan lewat film-film Holywood. Tapi aku berusaha cuek. Toh dari sekian banyak orang-orang yang berpostur raksasa dan serba klimis itu, akulah puncak dan fokus acaranya.
Mula-mula acara itu didahului dengan pidato-pidato yang membosankan. Terutama karena sedikit sekali yang bisa aku tangkap dari apa-apa yang mereka ucapkan. Bahasa Inggrisku memang payah sekali. Aku berjuang keras melawan kantuk yang tiba-tiba menyergap.
Akhirnya, tibalah saat itu. Aku dipanggil maju ke depan, lalu membaca sambutan dengan gemetaran dan terbata-bata. Kata-kata itu kupersiapkan cukup lama dengan bolak-balik membuka-buka kamus. Alhasil, pidatoku mungkin terdengar berantakan, dengan bahasa inggris yang kayak dagelan. Anehnya, semua bertepuk tangan dengan gembira atas apa yang aku sampaikan. Aku merasa konyol sekali. Hampir semua menganggap itu bagian dari genre sastra yang kukibarkan. Biarkan kata-kata lepas tanpa harus dibebani makna-makna yang berat. Jadi sejauh ini, semuanya berjalan dengan lancar-lancar saja.
Selesai memberi pidato, aku didaulat berdiri di tengah panggung. Jantungku berdebar-debar. Inilah saat itu. Menerima hadiah Nobel yang bersejarah ini. Merupakan hal yang pertama kali bagi diriku untuk menerima penghargaan. Juga pertama kali bagi satrawan-sastrawan di tanah airku. Kuterima piagam berbingkai warna emas itu dengan hati berbunga-bunga. Kusalami dengan erat masing-masing anggota tim penilai yang penuh wibawa. Senyum gembira kulempar ke sana-kemari.
Pada jabatan tangan anggota tim penilai yang ke lima, aku terkejut. Bukan orang bule lagi dihadapanku. Di situ berdiri temanku satu kos dengan cengengesan, tapi berjas dan berdasi rapi. Dengan sedikit heran, bagaimana pula ia bisa menjadi anggota tim penilai hadiah nobel, ia kusalami juga dengan lebih erat. Lantas aku memeluknya untuk menunjukkan kebanggaan sebagai bangsa yang pernah meraih hadiah Nobel. Sebuah bangsa yang hendak menunjukkan kelasnya di dunia. Kami saling berpelukan dengan erat. Melepaskan rasa haru dan bahagia yang memuncak.
“Selamat…,” temanku berbisik di telingaku, “sekali lagi, selamat! Kamu berhasil juga akhirnya,“ ia menepuk-nepuk punggungku, “meski untuk sebuah karya yang tak akan pernah bisa dibaca…”
Aku gelagapan. Listrik mati! Masterpiece-ku belum di-save!
Rawabebek, Juni 2003
Kupu-kupu April 20, 2009
Posted by gondhess in cerita pendek.Tags: adzan, air, asyik, cerita, cerpen, hitam, imam, istri, jama'ah, kaligrafi, kasa, kumandang, kupu-kupu, kupu-kupu hitam, lembur, makmum, masjid, pendek, pulang, salam, sandal, serambi, sholat, sofa, televisi, wudhu
add a comment
Kupu-kupu di Serambi Masjid
Entah kenapa malam itu aku tiba-tiba kepengin sholat Isya berjamaah di masjid kompleks. Biasanya paling-paling hanya maghrib saja aku ikut berjamaah – kalau pulang kerja waktunya masih sempat, sesudah itu pulang ke rumah dan makan malam. Ketika tiba waktunya adzan untuk sholat Isya, biasanya kami sekeluarga sedang asyik di depan televisi, dan rasanya malas sekali untuk bangkit dari sofa.
Saat itu, kumandang adzan Isya rasanya kedengaran lain sekali. Seperti suara memanggil-manggil dari tempat yang jauh. Aku hampir merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan kepadaku seorang. Tentu saja ini hanya perasaanku saja, tapi yang jelas aku seperti merasa tergugah. Tiba-tiba ada perasaan cemas atau gelisah yang menghantui. Tak jelas mengenai hal apa, tetapi mengusik sekali perasaanku.
Aku bangkit dari depan televisi dan ke kamar untuk ganti baju dan memakai sarung serta peci. Aku keluar kamar dengan agak bergegas.
“Mau ke mana, Pa..?” istriku bertanya sambil memainkan remote control.
“Ke masjid. Sholat Isya, “jawabku singkat sambil menyampirkan sajadah ke pundak.
“Oo.. Kirain mau kenduri….,” cetus anakku yang lagi asyik menatap layar kaca.
“Hush! Kenduri aja yang dipikirin. Yuk ikut ke masjid.!?”
“Ogah ah. Nggak ada temennya,” jawabnya cuek.
Ia benar juga. Hampir tak ada anak sebayanya yang pada waktu Isya begini datang ke masjid. Semua anak-anak sedang asyik dengan acara tivinya masing-masing. Apa boleh buat. Sambil menutup gerbang aku masih berpikir-pikir tentang anak-anak sekarang. Teman bermain dan belajar mereka hanya tivi. Masih untung kalau menontonnya sempat didampingi orang tuanya. Tapi pada jam-jam segini banyak orang tua yang masih belum sampai ke rumahnya. Tiba-tiba aku merasa bersyukur sekali mendapat pekerjaan yang agak dekat rumah sehingga lebih punya banyak waktu untuk mengawasi anak-anak. Meskipun hasilnya masih jauh dari harapan.
Kumandang adzan terus memanggil. Marilah kita sholat. Marilah kita memperoleh keuntungan. Aku bergegas berjalan sepanjang jalan kompleks. Letak mesjid itu berada di tengah-tengah perumahan kami. Hanya dua blok saja dari rumah yang aku huni. Di depan sudah nampak serambi masjid yang terang benderang oleh lampu neon. Tidak kelihatan banyak orang di sana.
Setelah ambil air wudhu, kumasuki rumah ibadah ini dengan hati yang lebih jernih. Benar saja. Jumlah orang yang datang masih dapat dihitung dengan jari. Beberapa adalah tetanggaku yang aku kenal. Yang lainnya hanya pengurus dan ta’mir mesjid. Satu dua orang yang nampaknya dalam perjalanan. Ketika muadzin melantunkan iqomat, hanya satu baris saja shaf dibelakang imam. Itu pun tidak penuh.
Usai sholat, aku tidak langsung pulang. Duduk-duduk dan ngobrol dengan Pak Haji yang jadi Imam dan beberapa orang tetanggaku. Jamaah lainnya sudah langsung pergi begitu sholat selesai.
Masjid yang besar dan terkesan agung itu jadi nampak lengang oleh kami berempat. Kaligrafi-kaligrafi di tembok bagian atas seperti kesepian ditimpa cahaya. Ayat-ayat suci tersebut kini nampak seperti kurang wibawa dihadapkan pada zaman yang semakin bergegas. Obrolan kami bergaung ke sudut-sudut mesjid, memecah kelengangan.
Beberapa menit kemudian kami merasa harus pamit, saling bersalaman dan pulang ke rumah masing-masing. Petugas ta’mir mulai mematikan kipas angin dan lampu-lampu di dalam. Aku keluar melalui serambi depan yang sudah sunyi. Lampu-lampu di sini tidak dimatikan. Aku mencari-cari sandalku di sebuah sudut.
Di lantai keramik teras, persis sebelah atas tempat sandal kutaruh, kelihatan seekor kupu-kupu hitam, ah mungkin bukan hitam tapi karena sebelah sini kurang terang sehingga kupu-kupu itu kelihatan hitam seperti bayangan. Aku tak hendak mengusiknya, ia mungkin sedang istirahat setelah terbang kesana-kemari.
Aku baru merasa sedikit aneh, saat sedang mengenakan sandal, jarak kami begitu dekat, tetapi kupu-kupu itu diam saja. Tak merasa takut atau terusik. Ia mengepakkan sayapnya perlahan-lahan. Naluri ‘jawa’ku segera bekerja : apakah ini bukan kupu-kupu biasa, atau ini sebuah pertanda?
Sering dulu aku menertawakan ‘naluri’ku sendiri. Sebagai seorang yang berpendidikan dan hidup di kota, aku merasa harus hidup secara rasional dan membuang jauh-jauh segala kebiasaan kuno dan tak masuk akal. Namun diam-diam, karena pernah besar di kampung, perasaan antara percaya dan tidak percaya sering berdebat sendiri dalam pikiranku. Meskipun tidak sepenuhnya percaya, seringkali insting semacam itu menolong dalam perjalanan hidupku. Bagaimanapun, orang-orang dulu selalu membaca gerak-gerik dan gejala-gejala alam sebagai pertanda yang bisa dipercaya. Terutama dikampung-kampung, dimana hidup mereka masih dekat dan bersatu dengan alam. Seperti sebuah harmoni yang saling mengisi. Jelas hal tersebut tak sepenuhnya salah dan irasional. Paling tidak menolong dan memberi peringatan agar lebih waspada dan hati-hati dalam mengarungi kehidupan ini.
Sambil kuamati sekilas dan yakin bahwa itu hanya sebuah kupu-kupu, tidak lebih, aku menyeret sandalku dan berjalan pulang. Terutama karena tiba-tiba saja terngiang nyanyian Iwan Fals dalam benakku, Kupu-kupu Hitam Putih, yang bercerita tentang sebuah ‘pelajaran’ dari alam.
****
Sejak saat itu, setiap ada kesempatan aku selalu mengikuti sholat Isya berjamaah di masjid. Dan setiap kali pula aku berjumpa dengan kupu-kupu yang sama. Mula-mula karena merasa ada ‘naluri’ tadi, esoknya aku berniat untuk kembali sholat Isya ke masjid. Untuk membuktikan apakah aku akan menemukan kupu-kupu itu lagi. Benar saja, hari berikutnya ia menclok di ujung keset serambi, dan hampir-hampir terinjak kakiku. Esoknya lagi, ia nempel pada tiang dan terlihat saat aku sedang memakai sandal hendak pulang. Begitulah setiap kali aku hendak pulang dari masjid. Hal ini membuat aku penasaran dan aku semakin rajin saja datang ke masjid.
Hal ini menyebabkan istriku keheranan.
“Kok Papa rajin bener ke masjid sekarang?”
Itulah zaman sekarang. Ada orang rajin ke mesjid malah menimbulkan pertanyaan. Tetapi aku maklum saja. Soalnya sebelum-sebelum ini memang aku jarang ikut berjamaah sholat Isya.
“Yaah… Alhamdulilah. Gara-gara ada kupu-kupu itu,” ujarku sekenanya.
“Apa? Kupu-kupu? Di masjid lagi….” istriku makin keheranan.
Lalu kuceritakan semua yang kualami belakangan ini saat usai sholat Isya berjamaah. Istriku hanya tersenyum-senyum dan menganggap aku sedang menceritakan sebuah lelucon. Akhirnya aku juga turut senyum-senyum sendiri. Barangkali aku yang keterlaluan menanggapi perasaanku sendiri, padahal yang kualami itu sebenarnya hal yang biasa saja, tak ada istimewanya sama sekali. Tapi toh aku bersyukur bahwa kupu-kupu itu bisa menyebabkan aku rajin datang ke masjid.
Beberapa waktu kemudian, tugas-tugas pekerjaan membuat aku lembur dan baru sampai ke rumah sudah agak malam. Dengan sendirinya acara sholat ke masjid menjadi terganggu. Sudah beberapa hari ini aku absen. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari rutinitas melihat kupu-kupu di serambi masjd itu.
Suatu hari, aku sampai rumah sudah jam delapan malam. Setelah mandi, sholat dan makan malam aku bergabung dengan anggota keluarga lainnya di depan televisi. Sebenarnya aku bosan melihat acara televisi yang itu-itu melulu, tapi apa boleh buat, anakku selalu pegang kuasa di depan televisi kalau kita tak mau mendengar rengekan-rengekannya. Ia sudah kelas satu sekolah dasar, tapi karena anak satu-satunya, ia memang agak manja. Istriku, pembantu dan keponakanku yang tinggal bersamaku semua memanjakannya. Sambil iseng lalu kubuka-buka sebuah majalah.
“Pah.. pah… tadi ada kupu-kupu, lho.. Menclok di pintu depan…,” ujar anakku itu sambil menggoyang-goyang tanganku yang sedang memegang majalah. Rupanya acara kesayangannya sedang dipotong iklan hingga dia mengalihkan perhatian dari layar kaca.
“Kupu-kupu? Bagus, nggak?”
“Nggak begitu, sih. Abis warnanya hitam. Tapi besar lho, Pah…”
“Seberapa besarnya..? Kok nggak ditangkap..?”
“Nggak. Takut, ah! Lagian kata mama nggak boleh ditangkap. Katanya kupu-kupu itu sedang nyari Papa….”
Aku terkejut. Teringat kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu. Juga absen-absenku dari masjid beberapa waktu ini. Kulirik istriku, ia tersenyum-senyum penuh arti. Sungguh aku tidak bisa menebak dengan persis arti senyumannya itu.
“Yaah.. Mungkin. Tapi bisa jadi sedang nyari mamamu juga…” ujarku sambil melirik kembali istriku. Ia tersenyum makin lebar.
“Kok begitu sih, Pa…?”
“He..he..he… Kupu-kupu itu kan habis terbang jauh. Ia capek dan ingin istirahat. Makanya menclok di pintu. Kalau ia kita anggap seperti tamu, tentu yang dicari kan papa atau mama…?”
Anakku tak menanggapi lebih lanjut. Iklan telah selesai dan acara kesayangannya kembali berlangsung. Konsentrasinya telah beralih ke televisi kembali.
Malamnya ketika mau tidur, aku menanyakan kembali perihal kupu-kupu itu kepada istriku. Karena sudah disergap hawa kantuk, istriku tak menanggapi dengan serius. Lagipula dari awal dia memang tetap menganggap itu sebuah lelucon. Ketika kutanya kenapa dia bilang kalau kupu-kupu itu mencari aku, dia menjawab,
“Yah. Abis Papa kan sekarang udah jarang ke mesjid lagi. Padahal dulu kan rajin gara-gara kupu-kupu itu? Kupu-kupu itu kangen kali sama Papa. Huaaahhmm… Udah ah tidur. Sudah malam ini.”
Tapi aku tidak bisa tidur. Kupu-kupu itu memenuhi pikiranku. Berterbangan kian kemari mengisi ruang-ruang dalam ingatanku. Ribuan jumlahnya, mengepak-kepakkan sayapnya yang berwarna hitam keabu-abuan. Menyeretku terbang dan kemudian menjatuhkanku dalam dunia yang hitam pekat. Gelap!
Aku terjaga. Kulihat istriku masih tidur dengan nyenyak. Malam sedang bergeser perlahan. Lampu kamar yang remang melontarkan bayangan-bayangan ke dinding dan langit-langit. Seakan mengurungku diam-diam. Sulit sekali memejamkan mata kembali. Udara terasa pengap. Aku bangkit dan ke dapur minum air putih. Udara dingin sekali, sementara di jam larut ini terasa sangat hening dan sunyi.
Akhirnya aku ke kamar mandi, buang air kecil sekaligus ambil air wudhu. Mudah-mudahan dengan tahajud mampu mengusir kupu-kupu hitam dari benakku.
*****
Esok harinya, aku bisa pulang kerja lebih cepat, meski tiba di rumah pas maghrib. Selesai makan malam, aku bersiap-siap hendak ke masjid untuk jamaah sholat Isya. Istriku sudah senyum-senyum saja sembari membereskan meja makan. Tak lama kemudian terdengar adzan bekumandang.
“Tuh, Pa. Sudah adzan. Salam buat si kupu-kupu ya?” bisik istriku cengengesan sambil membawa piring kotor ke dapur. Aku tidak menanggapi gurauannya.
Aku bergegas berangkat. Ada harap-harap cemas, ada semacam rasa gelisah, juga sedikit rasa takut. Persis seperti dulu waktu aku pertama kali menemukan kupu-kupu itu.
Masjid masih juga terasa sepi dan lengang, meski terang benderang. Tidak banyak orang yang datang, tak ada yang berubah. Yang kelihatan juga orang-orang yang sama. Seperti biasanya, makmum hanya satu shaf dan tidak penuh.
Usai sholat dan salam-salaman, aku langsung pamit. Entah kenapa yang lain juga turut bergegas pulang. Barangkali ada keperluan masing-masing. Seperti biasanya aku berjalan ke serambi. Di situ masih terang benderang, dan nampak ada seorang petugas masjid sedang menyapu. Aku tersenyum menyapa,
“Kok nyapu malam-malam?”
“Ah nggak. Ini ada kupu-kupu mati, ntar terinjak kaki. Jadi saya bersihkan saja.”
Aku terkesiap. Kupu-kupu? Mati?
“Kupu-kupu? Coba saya lihat. Bener sudah mati!?” Aku cepat-cepat menghampirinya. Dibawah sapunya, tergolek kupu-kupu hitam. Seperti kupu-kupu yang selama ini aku jumpai. Diam tak bergerak dan nampaknya memang sudah mati. Aku merasa sedih, menyesal. Aku merasa kecewa sekali. Merasa berdosa atau bersalah tapi juga tak jelas benar ujung pangkalnya. Yang jelas aku merasa seakan-akan ada yang rontok satu per satu dari jiwaku. Sebuah lambang perlahan-lahan turun menciptakan semacam bendera setengah tiang.
Aku mengais-ngais perasaanku, mencari-cari ‘naluri’ku yang biasanya tanggap dan bisa membaca setiap peristiwa di depan mata. Aneh. Perasaanku jadi kosong. Serasa nol. Sebuah jalan yang lebar telah membentang tapi aku merasa ketakutan disergap kesendirian. Sunyi sekali malam ini.
Aku segera mengontrol diriku kembali. Dengan rasa kecewa aku berjalan pulang. Malam itu aku kembali sulit tidur. Bayangan kupu-kupu yang tergolek tak bergerak kembali memenuhi kepalaku. Kupu-kupu itu kini tak bisa terbang kembali. Ribuan kupu-kupu yang mati terus bertumpuk seperti onggokan sampah. Petugas mesjid dengan setia menyapu dan membersihkannya. Namun setiap saat tumpukan itu menggunung kembali. Bagai daun-daun yang rontok berguguran di tiup angin. Setiap disapu, setiap itu pula bertumpuk kembali. Namun petugas itu melakukannya dengan tenang saja, tanpa ada rasa capek atau kesal. Tak ada perubahan raut wajahnya. Seperti sebuah rol film yang diputar berulang-ulang. Lama-lama aku melihat bahwa penyapu itu tak lain adalah diriku sendiri.
Aku menyapu setiap kupu-kupu yang menggeletak dan mati. Bertumpuk-tumpuk selalu teronggok kembali. Aku terus bekerja keras tanpa suara. Tanganku makin pegal dan capek. Rasanya sudah berjam-jam lantai serambi ini kubersihkan, tapi setiap berbalik sudah kotor lagi oleh bangkai kupu-kupu yang berserakan. Aku memejamkan mata. Tetapi kupu-kupu terus bergelimpangan mengotori lantai. Samar-samar, diantara kapu-kupu yang kusapu rasanya aku melihat beberapa silhuet membentuk raut yang kukenal. Wajahnya itu! Kepalanya itu! Tak lain tak bukan adalah wajah anak dan istriku, juga teman-teman jamaah di masjid sedang terkekeh-kekeh menertawaiku! Aku membuang sapuku.
Tulisan kaligrafi pada dinding sebelah atas yang biasanya indah serasa memelototiku. Seakan-akan menyemprotkan makian-makian pedas. Pintu utama masjid yang terbuat dari panel kayu berukir tiba-tiba seperti mulut raksasa yang hendak mengunyahku lumat. Aku berlari jatuh bangun dan terseok-seok. Terjerembab di halaman masjid, aku tak memikirkan lagi sandalku yang tertinggal. Terdengar bunyi gemuruh. Nampaknya seluruh isi masjid sedang menertawai kebodohanku. Aku istighfar beberapa kali.
Aku terbangun gelagapan. Nafasku masih memburu. Setelah agak tenang aku bisa melirik jam dinding di tembok depanku. Lewat tengah malam. Kulirik istriku, masih lelap seperti biasanya. Rasanya konyol sekali mimpi barusan. Tapi dalam hati yang paling dalam, aku sangat bersyukur. Masih diingatkan, meski dengan cara yang sedikit aneh.
Aku bangkit ke kamar mandi, hendak ambil air wudhu. Aku ingin tahajud untuk memanjatkan rasa syukurku, juga penyesalanku atas kesalahan yang kulakukan. Persis tepat di atas kran tempat wudhu, ada kupu-kupu hitam bertengger. Sayapnya yang lembut berkepak perlahan sekali. Aku terkesiap. Kemudian tersenyum kecut.
Kulirik lobang angin di tembok sebelah atas. Sudah beberapa kali istriku mengingatkan aku untuk mengganti kasa nyamuk yang sudah sobek dan bolong-bolong, tapi belum sempat kulakukan. Bunyi percikan air yang menyemprot lantai memecah kesunyian. Kupu-kupu itu kaget, lalu terbang berputar-putar dan melalui lobang angin keluar menembusi kegelapan malam.
Rawabebek, 17 Juni 2003