jump to navigation

Be Inspired..! Maret 2, 2009

Posted by gondhess in Enak dibaca.
add a comment

Tentu anda pernah membayangkan si Archimedes berlari-larian tanpa baju ke jalanan sambil teriak-teriak “Eurekaa… eureka… eurekaa…!” ketika secara ajaib berhasil menemukan hukum-hukum air dan bejana berhubungan. Konon katanya dia menyadari atau menemukan ilmunya setelah menyemplungkan dirinya ke dalam bak mandi. Begitulah cerita yang aku peroleh ketika diperkenalkan dengan hukum archimedes waktu es de.

Kini tentu saja cerita semacam itu agak sulit dipercaya. Sama seperti sulitnya mempercayai si Newton menemukan hukum gaya gravitasi saat duduk di bawah pohon apel dan kebetulan ada apel yang jatuh. Hukum-hukum gaya yang njelimet dan penuh dengan rumus-rumus itu, yang sempat menjadi momok saat sekolah menengah, jelas tidak ditemukan begitu saja secara ajaib. Ini bukan mistik. Melalui beribu-ribu percobaan dan kegagalan lah ilmu itu muncul, sehingga hukum-hukum yang terumuskan pun jadi pasti, awet, dan belum terbantahkan hingga kini.
Dapat kau bayangkan, jika archimedes harus ribuan kali nyempung ke air tentu tiap hari dia akan meriang panas dingin. Dan Newton akan tiap kali keserang angin duduk dan masuk angin gara-gara keseringan nongkrong di bawah pohon menunggu apel jatuh.

Inspirasi, mungkin satu kata yang tepat untuk mendudukkan persoalan menjadi lebih masuk akal. Inspirasi bisa datang dari apa saja. Dari siapa saja. Tapi ia adalah titik yang memungkinkan segala sesuatu bisa menjadi kenyataan. Jadi ketika melihat air tumpah dari bak, atau gedebuknya apel jatuh dari pohon, itulah yang menjadi inspirasi, sebuah titik api pencerahan ke arah terang benderang. Yang terjadi kemudian adalah percobaan-percobaan dan pengulangan-pengulangan, dan tentu saja setiap kali menimbulkan kegagalan dan ketidak puasan, sampai akhirnya menemukan keyakinan, yang sudah teruji oleh keragu-raguan tiap waktu.

Karena itu, menjadi mengherankan bahwa di saat kini orang masih mengharapkan terjadinya hal-hal besar muncul secara ajaib. Menginginkan mukjizat. Serba ingin instan. Padahal segala sesuatu mestinya perlu diperjuangkan. Karena sesungguhnya pada akhirnya bukan hasil itu sendiri yang penting, melainkan prosesnya, kegagalan-kegagalan itu, yang membuat kita banyak belajar, yang membuat kita semakin pintar.

Tapi memang juga beberapa hal tak dengan sendirinya jadi mudah. Seringkali buntu, dan merasa kosong sama sekali. Tak ada ide atau inspirasi yang nongol, meski bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok telah ludes dalam permenungan. Pegangan terasa luput, kaki seperti terserimpet sesuatu. Yang datang malah bermacam-macam bayangan buruk ketakutan kita sendiri, rasa khawatir bahwa semua akan berakhir begitu saja.

Beberapa hari ini ada teman yang sering menelpon, mengajak bisnis atau usaha apa saja. Dia rupanya sedang buntu ide, lalu merengek-rengek ke saya. Akan halnya saya sendiri untuk saat ini jelas belum punya pikiran untuk memulai usaha atau bisnis. Disamping tidak punya modal, dan juga rencana-rencana besar, saya juga punya pikiran jelek terhadap diri saya sendiri, yakni bahwa saya ini tak punya jiwa bisnis, tak punya otak dagang sama sekali. Pernah sekali jadi sales, itu pun tak mampu menjual barang satu unit pun, padahal sudah cukup berusaha (menurut saya) keras, sebelum pada akhirnya berputus asa dan menyerah. Segala teori dan strategi salesmanship sebenarnya sudah cukup dikuasai. Bahkan sebelum terjun ke lapangan, sebenarnya sudah dibekali semacam kursus dan diklat. Percaya atau tidak, dalam setiap kali diklat semacam itu, saya selalu punya prestasi, paling tidak menjadi juara dua atau tiga pada saat evaluasi akhir, dari sekian banyak peserta. Namun ya itu, di lapangan saya menjadi nol besar. Barangkali saya memang tidak berbakat. Atau katakanlah tidak punya semacam jiwa wira usaha.

Tapi benarkah itu? Terus terang saya sendiri juga tidak terlalu yakin. Tidak pasti. Paling tidak dalam kehidupan sehari-hari toh saya masih sedikit menghitung-hitung juga, berapa banyak yang akan saya dapat, dan seberapa besar yang harus saya korbankan, ketika harus mengerjakan sesuatu. Seperti juga kebanyakan orang. Setidak-tidaknya ketika harus mengerjakan sesuatu, saya masih sempat berpikir : apa untungnya buat saya dengan melakukan ini? Bukankah ini seperti bibit-bibit jiwa dagang juga?
(lho kok malah cerita diri sendiri, ya? Sorry pren.. :)

Kembali ke kawan saya itu. Dia bilang sudah mencoba bermacam-macam cara memulai bisnis, tapi hasilnya belum seperti yang bisa diharapkan. O iya, kawan saya itu sebenarnya seorang pegawai BUMN dengan gaji lumayan, istrinya seorang dokter gigi, jadi secara ekonomi sebenarnya sudah cukup mapan. Namun baginya tentu saja belum cukup. Bagi siapapun, keinginan dan harapan-harapan akan selalu lebih tinggi daripada apa yang dapat ia capai. Ini rumus, Bung!

Saya sudah sarankan berbagai hal, tentang usaha ini itu. Tapi jawabanya adalah selalu bahwa usaha itu sudah ada yang menjalankan, atau usaha itu terlalu beresiko, atau bahwa usaha itu tak ada hasilnya (untuk mengatakan bahwa hasilnya sedikit), dan lain-lain. Pendek kata, tak ada yang memenuhi seleranya. Ia ingin sesuatu yang baru, yang unik, yang modalnya bisa dikover, dengan prospek menjanjikan, dengan keuntungan besar, dan realistis. Hah? Semua orang juga menginginkan itu, bro!

Maka yang dapat saya sarankan adalah : carilah ide segar, gali inspirasi. Darimana saja.

Namun ya itu, inspirasi memang tidak mudah kita dapatkan. Apalagi bila kita sedang terfokus pada sesuatu, maka yang lain akan tertutup tabir. Bahkan saat kita menemukannya, mungkin juga segera kita abaikan. Anda ingat, barangkali ribuan orang pernah melihat apel jatuh, mangga jatuh, durian jatuh, bahkan orang jatuh (?), tapi hanya ada seorang Newton. Tak terhitung banyaknya orang yang terjun ke bak mandi dan menyebabkan kamar mandi banjir, tapi hanya ada seorang Archimedes. Sisanya paling kena marah seisi rumah, bahkan kalau apes malah terserang flu dan demam.

Saya jadi ingat pada sebuah acara di tivi. Pada sebuah perbincangan tentang pencerahan kehidupan, salah satu pembicara menyarankan untuk mengingat kembali film trilogi “The Matrix” yang diperankan Keanu Reeves. Bukan ceritanya yang ruwet dan mengerikan tentang masa depan manusia dan mesin, melainkan adegan slow motion yang banyak sekali dalam film tersebut. Dimana peluru yang sebenarnya melesat secepat kilat, ditampilkan dalam adegan lambat, seperti perlahan-lahan mengiris angin, membelah udara, mendesau tanpa suara, hingga timbul gelombang yang indah sekali…

Apa yang hendak disampaikannya adalah bahwa dalam hidup, kita perlu sekali-sekali ber-slow motion, memperlambat ‘gerak’ pikiran. Kita perlu merasakan kembali tubuh kita, bagaimana kita bernafas setiap detik, bagaimana darah mengalir ke seluruh tubuh, bagaimana denyut nadi berdetak seiring denyutan jantung, bagaimana lidah bisa merasakan segarnya air putih, atau es krim (!), bagaimana sebuah bunyi bisa mejadi kuat bernada dalam musik, bagaimana rambut tumbuh sel demi sel, bagaimana sepotong daun perlahan-lahan menguning di halaman, bagaimana air embun perlahan menetes dari pucuk-pucuk perdu, bagaimana lembutnya angin sore menyisir wajah dan rambut kita, begitu lembut, begitu mesra. Dengan kata lain, kita mesti memperhatikan lagi hal-hal yang kita anggap kecil di sekeliling kita, yang selama ini kita anggap sepele.

Siapa tahu, dari sana akan segera muncul inspirasi, lalu ide-ide yang segar, yang menuntut untuk diwujudkan. Paling tidak dari situ kita tahu bahwa sebenarnya kita sudah punya bekal yang cukup untuk merasa berbahagia. Bukankan itu yang selama ini kita cari?
Makanya, sekali-sekali, dengarkanlah kembali lagu lama Louis Armstrong, “What a wonderful World”

I see trees of green, red roses too,
I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world….

Suara Armstrong yang serak-serak berat itu, memang full inspired. Tak percaya?

BCL, LemahAbang, Akhir February 2009
Yadhie M. Setiyadi

Sekolahan Maret 2, 2009

Posted by gondhess in Enak dibaca.
add a comment

Coba renungkan sejenak. Dari taman kanak-kanak, es de, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi kita belajar. Tapi bila ditanya tentang sekolahan dulu, ingatan yang pertama-tama muncul tentu ini : teman-teman akrab, tempat-tempat kita bermain, pojok-pojok kantin, toilet yang jorok dan bau, dan juga – tentu saja – kenakalan-kenakalan yang kita perbuat. Mana buku pelajaran matematika itu? Mana buku pelajaran fisika, kimia biologi itu? Mana pelajaran bahasa itu? Ada, tentu saja ada, tapi kita harus menggalinya lebih jauh dari ingatan. Yang kita ingat adalah Pak Guru anu yang galak, Bu Guru bahasa yang manis, Kepala sekolah yang streng, Guru olah raga yang cuek, Pak bon yang baik hati. Jadi persis. Kita adalah mahluk sosial, bukan robot, maka yang kita ingat pertama kali adalah hal-hal yang humanis dan manusiawi. Kita tak lagi jadi sekedar kamus atau ensiklopedi.

Karena itu, begitu pentingkah sekolah? Apalagi pada zaman ini, dimana biaya sekolah menjadi begitu mahal. Baru masuk TK saja sudah berjuta-juta. Apalagi sampai perguruan tinggi. Sementara uang menjadi semakin susah dicari. Entah ngumpet dimana, padahal menurut ukuran normal, kita sudah bekerja begitu keras memeras keringat, tapi begitu dapat uang, ia lewat begitu saja, mengalir seperti air kali yang butek dan tahu-tahu kita sudah tak kebagian apa-apa.

Yang sedang ngetrend saat ini adalah apa yang dinamakan home-schooling, sekolah di rumah. Belajar dengan mengambil guru profesional secara privat, dengan kurikulum khusus namun tak beda jauh dengan sekolah umum. Di rumah? Namanya bukan sekolahan, dong… Kok masih pake school? Jelas, tentu saja. Sekolah – school – asal katanya tidak merujuk suatu “tempat”, melainkan suatu proses belajar mengajar, meskipun dalam benak kita tiap kali kata sekolah disebut, akan muncul bayangan gedung yang panjang dengan banyak jendela lebar-lebar, dengan halaman luas tempat lapangan basket, volley, atau bulu tangkis, dan tentu saja untuk upacara bendera tiap hari Senen.

Mengapa home-schooling? Barangkali karena sibuk. Anak-anak sejak kecil sudah sibuk bekerja jadi artis misalnya. Karena itu tak ada waktu untuk duduk memelototi papan tulis dari jam 7 pagi hingga jam 1 siang. Atau karena sekolahan itu sendiri yang sudah tidak lagi efektif menantang perubahan jaman. Bahkan yang seperti menjadi trend akhir-akhir ini, banyak terekam adegan kekerasan dalam lingkungan sekolah. Bagaimana para orang tua tidak menjadi ngeri? Atau karena sifat-sifat khusus anak yang mengharuskan dia home-schooling. Anak autis misalnya. Entah kenapa, saat ini juga menjadi begitu banyak anak-anak yang kena gejala autis. Mungkin karena lingkungan kehidupan dengan segala aspeknya yang sudah begitu banyak tercemar.

Yang menurut saya agak menyayangkan dari home-schooling mungkin adalah kenangan manis apa yang hendak dia bawa saat dewasa nanti tentang masa sekolahnya. Dengan kata lain, interaksi sosial dengan teman-teman sebaya dipastikan berkurang. Tapi memang jaman mungkin telah berubah. Manusia-manusia telah tumbuh menjadi semakin individualistis. Sejak kecil yang ditanamkan adalah jiwa persaingan, berkompetisi, berlomba, dan bertanding. Dalam ‘kode etik’ semacam itu, yang ada kemudian adalah rasa menang dan kalah. Ada yang merasa menang, dan tentu saja ada yang dikalahkan. Ada yang nomer satu. Dan ada yang nomor sewidakrolas. Dalam hal ini, yang kemudian tumbuh adalah bahwa pihak lain, anak-anak lain, teman-teman, adalah semacam ‘musuh’ yang harus dikalahkan. Persahabatan, pertemanan, menjadi seperti klise. Semacam kontrak sosial. Kerjasama, teamwork, bisa selalu ada, namun juga selalu dalam rangka ‘mengalahkan’ pihak lain.

Apakah selalu harus seperti itu? Saya yakin tidak. Humanisme, selalu menemukan jalannya dan bentuknya sendiri. Ketakutan akan kekerasan dan perpeloncoan yang ada disekolahan yang akhir-akhir ini jadi berita, sebenarnya juga bukan hal yang menyedihkan betul. Kekerasan memang tak bisa dibenarkan, tapi perpeloncoan yang kreatif akan menyisakan kenangan manis tersendiri.

Sebagai alumnus berbagai sekolahan sejak bangku TK, saya juga mengalami berbagai perpeloncoan, namun justru itulah kenangan yang paling melekat dari sekolahan yang sudah saya tinggalkan itu. Yang terberat tentu adalah masa-masa SMA, ketika harus (diwajibkan) menjadi anggota Pramuka atau PMR. Harus kemping di musim penghujan, harus long march sepanjang malam di daerah yang belum dikenal, dalam hujan. Harus menyuruk-nyuruk dalam got yang berlumpur, memanjat bukit yang superlicin (karena hujan), menaiki tembok tinggi, nyeberang kali, ditakut-takuti dalam kuburan yang gelap dan sebagainya. Atau ini, yang paling bikin jengkel : lagi tidur enak-enak tiba-tiba dibangunin, dikumpulin, lalu diperintah untuk tiarap di lapangan, kemudian disuruh berbaris satu-satu, jalan dalam gelap hingga akhirnya tiba di … kuburan! Dan disitu diceramahi macam-macam. Katanya ini adalah renungan malam…. Sebuah proses transformasi jiwa. Saya tentu saja tak percaya. Kan mending tidur, wong malam-malam dan dingin begini. Siapa yang perduli dengan pencerahan, kesadaran, dan sebagainya. Tapi ada loh yang begitu menghayati sampai nangis nggerung-nggerung…

Pada saat itu, tentu saja saya merasa menjadi orang paling menderita, tapi kini jelas menjadi kenangan yang manis. Dan alhamdulilah saya belum pernah mengalami kekerasan dalam lingkungan sekolahan. Bahkan ketika masuk perguruan tinggi pun, perpeloncoan malah terasa asyik. Bayangkan saja, pada saat itu jelas bertemu dengan anak-anak baru dari berbagai penjuru negeri, sama-sama dalam penderitaan jadi korban iseng para senior. Yang ada kemudian adalah rasa senasib sepenanggungan yang jelas memunculkan bibit-bibit persahabatan. Bayangkan pula bila anda ketemu cewek (atau cowok) yang baik hati dan tidak sombong, cakep pula (karena baru pertama ketemu!). Wah! Hidup terasa jadi superstar… karena sama-sama belum ketahuan belangnya…

Jadi, ketika ditanya masa-masa sekolah dulu, tentu yang teringat dengan cepat adalah si A, yang setia jadi kompanyon membolos, atau si B, partner dalam hal bagi-bagi rokok di pojok kakus yang pesing, atau si C yang ahli dalam meniru tanda tangan buat titip absen…. atau si D, yang fotokopi bahan kuliahnya selalu lengkap (meski tak pernah kebaca). Ah si D ini, saya jadi ingat orangnya, yang pergaulannya begitu luas. Relasinya banyak, terutama diantara para cewek-cewek yang biasanya memang rajin mencatat dan mengumpulkan bahan kuliah. Alhasil, si D ini juga lengkap fotokopi bahan kuliahnya. Jadi menjelang ujian, dia memang jadi andalan. Tidak perlu repot kesana-kemari, cukup datangi dia, fotokopi semua, dan bum! Bahan-bahan ujian kita akan selengkap anak yang sama sekali tak pernah bolos selama satu semester! Komplit dengan referensi-refensi sang dosen. Tapi anehnya, si D ini kok nilainya seringkali malah jeblok! Mungkin baginya bukan bahan kuliah itu yang penting sungguh, melainkan kesempatan ketemu sama cewek-cewek guna meminjam catatan itu yang selalu didamba…

Maka, sesungguhnya saya bukanlah pengikut Ivan Illich yang menganjurkan de-schooling society, semacam ‘pemberangusan’ sekolah. Sekolah memang perlu dan penting. Tapi melihat anak-anak sekolah sekarang, saya kadang-kadang merasa sesak nafas. Berangkat pagi-pagi sekali, pulang nanti menjelang maghrib. Harus les ini itu, pembekalan, pengayaan materi, bimbel, ekstra kurikuler, dan hal hal ‘aneh’ lainnya. Capek sekali melihatnya.

Seolah semuanya adalah urusan yang serius. Tak ada lagi main-main. Sebab sekali engkau main-main, maka engkau akan tersingkir ke urutan yang penghabisan! Mengerikan sekali. Tiap saat harus bergelut dengan buku, agar bisa menjadi nomor satu. Padahal yang nomor satu itu jelas hanya satu. Hidup seperti tak ada sisa. Tak ada tempat kosong lagi. Ruangan telah penuh atas nama persaingan dan kompetisi.

Benarkah kehidupan didesain untuk menjadi seperti itu? Tak tahulah aku! Saya hanya berharap bahwa mereka ini nantinya akan tetap tumbuh menjadi manusia-manusia yang lengkap. Yang bisa merasakan bahwa bahagia itu ada, tetap menjadi haknya. Meski tak selalu harus menjadi nomor satu.

BCL, LemahAbang, awal Maret 2009
Yadhie M. Setiyadi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.