Nobel April 20, 2009
Posted by gondhess in cerita pendek.Tags: bumbu, cerita, imajinasi, jas, kalimat, kata, keringat, kesusasteraan, nobel, peluk, pendek, sastra, tulis, tulisan, tuxedo
1 comment so far
Nobel
Sebuah cerita pendek telah selesai aku tulis. Dua tiga jam terakhir ini aku mengurung diri di kamar, mengetik dengan sebuah PC tua yang sudah agak usang. Tadinya aku ingin merekonstruksi beberapa peristiwa yang pernah aku alami, plus sedikit bumbu imajinasi, pasti akan menghasilkan cerita yang menarik.
Tapi apa boleh buat, daya ingatku ternyata pendek sekali. Hampir semua yang aku ingat hanya potongan-potongan kecil serupa mozaik. Ketika hendak kusatukan dengan sebuah alur yang runut, semua terasa menjadi berantakan. Masing-masing mozaik mendesak untuk bercerita sendiri, lepas dari yang lainnya. Tiba-tiba tanganku menjadi gagap dan gemetaran, tak bisa kukendalikan meski hanya untuk mengetik satu hurufpun.
Kupejamkan mata dan kupencet sembarang tombol dengan sedikit membayangkan letak huruf-hurufnya. Ketika beberapa huruf kurasa telah aku rangkai, kubuka mataku. Sebuah kalimat telah tersusun disana! Menarik sekali. Rupa-rupanya energi dan semangat menulisku telah menemukan bentuknya sendiri.
Kali ini tanpa mata tertutup, kubiarkan jari-jariku menari di atas keyboard. Kalimat demi kalimat terbentuk bersambungan. Lama-lama seperti mempunyai arti tersendiri, dengan tak usah aku mencoba mengontrolnya.
Aku menjadi bersemangat sekali. Kuempos seluruh enerji pikiranku. Keringat mulai mengucur, paragraf demi paragraf telah tersusun. Kubaca sekilas, aku merasa tidak malu untuk kagum terhadap diriku sendiri. Ini bagus sekali. Bisa menjadi karya sastra yang menghebohkan. Sebuah permainan imajinasi yang sedikit surealistis, tapi toh masih bisa terbaca. Pada bagian-bagian tertentu bahkan membentuk kata-kata indah serupa puisi, atau kata-kata mutiara.
Halaman demi halaman telah penuh. Tak ada dialog di sana, hanya paparan kata-kata dan kalimat. Kalaupun ada pertanyaan dan jawaban, semua dilakukan dengan sunyi. Tak perlu tanda petik, tanda tanya atau tanda seru dengan berulang-ulang. Semua mengalir dengan lancar. Sempat terpikir pula olehku untuk tidak menggunakan titik atau koma, biar lebih canggih. Toh jariku tak hendak berkelit ketika berkali-kali aku memencet titik atau koma. Jadi memang seharusnya demikian. Aku tetap tak bisa sepenuhnya mengontrol. Biarlah seperti apa adanya saja, pikirku.
Menginjak halaman keempat aku memutuskan untuk memegang kedali kembali. Ini harus selesai, harus diakhiri. Kalau tidak, aku harus mengetik sepanjang waktu untuk sebuah kisah yang tidak pernah selesai. Kisah yang tidak selesai tak akan pernah dibaca orang. Padahal aku bermaksud kepingin pamer, setidak-tidaknya aku mampu juga menulis. Mungkin tak akan pernah tercipta karya sehebat milik Shakespeare dari tanganku, tapi aku masih bisa membuat tulisanku sendiri. Begitu sebuah kata-kata bijak yang pernah kudengar.
Pada kalimat yang kuanggap penghabisan, aku memberi titik sebanyak lima kali, semacam gaya atau sekedar iseng, bahwa akhir cerita masih cukup mengambang, agar pembaca dibiarkan menggunakan imajinasi masing-masing untuk menutup cerita sesuai kehendaknya. Atau bisa juga sekedar membuat mereka penasaran. Meskipun sebagai penulis ceritaku sendiri aku berhak menentukan arah, toh dalam batas-batas tertentu sering membuat aku tak berdaya. Sebuah kisah, bagaimanapun tak akan pernah berdiri sendiri, apalagi cuma sebuah tulisan.
Cuma, katamu? Cuma sebuah tulisan?
Kugulung layar kembali ke halaman awal. Kubaca kembali dengan lebih seksama, sambil membetulkan huruf-huruf yang terpental kesana-kemari. Aku terbius. Aku terpesona. Seperti sedang membaca sebuah puisi yang panjang sekali. Seluruh kata-katanya merasuk sukma. Aku mabuk kepayang. Dadaku bergemuruh dahsyat. Tak bisa dipungkiri, ada semacam kekaguman atau kebanggaan sedang melanda diriku. Ini sebuah masterpiece!
Kupanggil teman kosku yang sedang asyik dengan buku dan minicompo di kamar sebelah. Tak ada respon. Rupa-rupanya ia sedang begitu asyik hingga mempersetankan sekitarnya. Aku kembali memanggil dengan berteriak. Berkali-kali. Nampaknya aku juga tak begitu bisa lagi mengendalikan diriku yang sedang ekstase. Akhirnya, dengan ogah-ogahan merasa terganggu ia memasuki kamarku.
“Ada apa, sih?” tanyanya sedikit jengkel.
“Nih, baca. Masterpiece! Hasil tulisanku sendiri,” ujarku bangga.
“Huh.. kirain apa. Akhirnya kamu berhasil menulis juga, ya? Coba lihat,” ia langsung duduk di depan meja komputerku.
Membaca kalimat demi kalimat, ia mengernyitkan dahi. Aku tersenyum-senyum senang di belakangnya. Tulisanku adalah karya yang serius, bukan sekedar cerita biasa. Hasil olahan enerji pikiranku yang sempat mengeluarkan bertetes-tetes keringat dingin.
Tak lama kemudian ia berbalik, memandangku sambil mesam-mesem.
“Gimana? Bagus, nggak?” Aku tak sabar mendengar komentarnya.
Ia cengengesan. Aku jadi penasaran. Ia seperti barusan membaca sesuatu yang konyol sekali.
“Nggak ngerti aku. Maksudnya apa sih ini?” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maksudnya bagaimana maksudmu?” tanyaku tidak tanggap.
“Ya ini. Tulisanmu ini. Ini sebuah cerpen, puisi, atau apa? Berantakan sekali.”
Aku sedikit jengkel tulisanku dibilang berantakan. Lagipula dengan enaknya dia bilang soal kategori-kategori. Sejak dulu aku tidak begitu sreg dengan segala macam penggolongan-penggolongan. Mau dibilang cerpen, boleh. Puisi, oke! Novel, silahkan. Apa saja. Yang penting sebuah tulisan yang bisa dibaca dan membangitkan gairah atau menggugah, itu adalah karya sastra. Apa urusannya dengan sekat-sekat pembatasan itu?
“Baca lagi dong, dengan lebih seksama. Yang serius! Buang logika-logika dan persepsi kamu dengan segala macam tai kucing itu…” aku mencoba membujuknya untuk membaca lagi.
“Lho, saya serius! Sungguh. Tapi saya tidak bisa menangkap apa-apa, selain rentetan kalimat dan kata-kata yang tidak nyambung…”
Wah! Bercanda dia. Bagimana mungkin ia tak bisa menangkap seribu pesona seperti yang barusan aku rasakan? Padahal dia bukanlah orang yang ‘buta’ sastra. Paling tidak bacaan-bacaannya selama ini cukup berbobot dan membutuhkan semacam daya pikir yang ‘lebih’. Ia ‘melahap’ karya Danarto, Putu Wijaya dengan enteng, menelan tulisan Budi Dharma, Dee, Ayu Utami, Asneli Lutan dengan sekali reguk. Belum lagi yang dari luar, mulai Neruda, Kundera, Garcia Marques, dan lain-lain yang bisa bikin kepala puyeng.
Pasti ada yang tidak beres ini. Mungkin dia sengaja mengujiku dengan kritikan. Atau dia pura-pura saja untuk mempermainkan aku. Atau, jangan-jangan dia malah ngiri dengan keberhasilanku menciptakan sebuah masterpiece! Lalu timbul rasa sirik, tak mau mengakui bahwa temannya yang satu ini ternyata hebat juga!
“Jangan gitu, dong! Baca dengan tenang. Resapkan…”
“Sudah. Sudah tahu. Mungkin sedikit bagus bila konstruksi dan alurnya lebih fokus. Ini hanyalah sekumpulan kata-kata atau kalimat. Tidak lebih. Bagaimana kalau kamu beri sedikit cerita yang tegas. Bumbui dengan beberapa dialog dan beri akhir yang mengagetkan.”
Sudah jadi pakar sastra rupanya dia. Aku jengkel sekali, hasil karyaku tak berharga sama sekali di matanya. Ia bersikukuh dengan logika yang konvensional, sementara aku bersikeras merasa menciptakan genre yang sama sekali baru.
“Enak saja! Nggak bisa dong! Masak harus diubah seperti itu. Itu sama saja membikin tulisan yang sama sekali baru,” ujarku ngeyel.
“Ya sudah,” katanya sambil bangkit. Di pintu, sebelum keluar kamar ia ngoceh lagi, “kalau kamu kepingin dibaca orang, kamu nggak bisa memaksakan kehendakmu sendiri saja. Perhatikan persepsi orang-orang juga. Itu baru bagus.”
Ia menutup pintu.
Ia membuka pintu dan nongol lagi. “Dan…,” katanya sambil memasang earphone, “jangan ganggu aku untuk hal-hal yang konyol seperti ini!”
Gregg! Pintu tertutup kembali.
Aku jengkel sekali. Hatiku panas. Merasa dilecehkan. Ingin marah-marah. Ingin kutimpuk saja kepala dan mulut yang sombong itu dengan asbak. Tapi apa boleh buat, harus marah kepada siapa? Ia sudah menghilang di balik pintu. Sebuah karya masterpiece serasa menjauh melayang-layang tertiup angin. Gairahku perlahan-lahan memadam.
Tetapi kata-kata dan kalimat di monitor seperti menyeretku kembali. Seakan-akan berusaha menghiburku. Benar. Karya yang berat dan hebat memang tak terlalu mudah untuk dipahami. Agak sulit untuk dimengerti dan ditangkap isinya. Ini bukanlah hiburan, bukan pula pelipur lara, atau apalagi sebagai pengisi waktu senggang. Dengan hanya membaca sekali atau sekilas, cuma akan memperoleh nol. Butuh kesiapan mental dan pikiran yang terbuka untuk menerima. Seperti Jazz. Sekali mendengar, akan terasa seperti kumpulan bunyi-bunyian yang kacau sekali. Tapi bila didengarkan dalam suasana yang pas, hati yang sedang mood, akan terasa bahwa betapa Jazz adalah sesuatu yang hidup!
Kuperhatikan lagi karyaku dilayar komputer. Benar juga. Bila dibaca dengan mengedepankan logika, memang terasa agak berantakan. Kalimat-kalimat terkadang saling berkait berkelindan. Antara yang satu dengan yang lainnya sering tak berhubungan. Kata yang satu dengan kata lainnya saling berjumpalitan. Masing-masing berdebat memperebutkan tempat. Sebuah titik dan beberapa koma berkelahi menyetop kalimat-kalimat yang berbaris tak rapi. Kata-kata ‘dan’ dan ‘atau’ berkejar-kejaran saling pentung dengan tanda seru. Kata-kata ‘damai’ dan ‘indah’ berjaga-jaga di setiap sudut, masing-masing memegang tanda tanya yang berfungsi sebagai senjata seperti sebuah celurit. Semua kata-kata saling piting, berantem dengan beringasnya. Sebuah kalimat yang tadinya berfungsi sebagai judul, seakan berenang ke sana-kenari mengaduk-aduk semuanya. Layar jadi kacau balau. Seru sekali. Kacau sekali. Seperti perang Amerika menyerbu Irak.
Aha! Ini dia, seruku dalam hati. Sebuah genre baru sastra memang benar-benar telah lahir. Sebuah sastra yang membebaskan. Bebaskan kata-kata dari belenggu makna. Selama ini kita sudah terlalu sibuk memelintir kata-kata, hingga maknanya semakin lama semakin kabur dan carut marut. Biarkan kata dan kalimat mengambil sikap sendiri. Temanku itu, bersama orang-orang lainnya memang belum siap membaca karyaku. Mereka masih terbelenggu oleh paradigma-paradigma lama yang sudah berlumut dan bangkotan. Mereka belum siap memasuki era baru. Mereka masih asyik terbius untuk bernikmat-nikmat dibalik tipuan kata-kata manis.
Diam diam, kurapikan karyaku itu. Kemudian kucetak dan kubundel rapi. Dengan diam-diam pula kukirim ke panitia penghargaan Nobel sastra di sebuah negara Eropa.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat balasan. Tanpa banyak cingcong, intinya aku diundang ke sana untuk menerima penghargaan. Apalagi kalau bukan hadiah Nobel di bidang sastra. Mereka menganggap aku telah menciptakan pembaharuan yang dramatis di bidang kesusateraan. Aku sedikit tidak suka pada penggunaan kata-kata dramatis tadi. Aku lebih suka memakai kata-katayang lebih tajam, misalnya drastis, tapi biarlah. Yang penting hadiah Nobel sudah di tangan.
Singkat kata, digelarlah upacara pemberian penghargaan itu. Tanpa koar-koar, tanpa wartawan, juga tanpa pejabat-pejabat yang katanya berwenang, kini aku sudah berada diantara orang-orang bule yang berjas dan berdasi rapi. Banyak pula yang memakai tuxedo. Aku sendiri merasa agak kedodoran dengan stelan sewaan. Merasa ngeper sekali. Seperti liliput di tengah-tengah para gulliver. Apalagi tempat penyelenggaraan acara itu mewah dan megah sekali. Sebuah tempat yang hanya aku bisa bayangkan lewat film-film Holywood. Tapi aku berusaha cuek. Toh dari sekian banyak orang-orang yang berpostur raksasa dan serba klimis itu, akulah puncak dan fokus acaranya.
Mula-mula acara itu didahului dengan pidato-pidato yang membosankan. Terutama karena sedikit sekali yang bisa aku tangkap dari apa-apa yang mereka ucapkan. Bahasa Inggrisku memang payah sekali. Aku berjuang keras melawan kantuk yang tiba-tiba menyergap.
Akhirnya, tibalah saat itu. Aku dipanggil maju ke depan, lalu membaca sambutan dengan gemetaran dan terbata-bata. Kata-kata itu kupersiapkan cukup lama dengan bolak-balik membuka-buka kamus. Alhasil, pidatoku mungkin terdengar berantakan, dengan bahasa inggris yang kayak dagelan. Anehnya, semua bertepuk tangan dengan gembira atas apa yang aku sampaikan. Aku merasa konyol sekali. Hampir semua menganggap itu bagian dari genre sastra yang kukibarkan. Biarkan kata-kata lepas tanpa harus dibebani makna-makna yang berat. Jadi sejauh ini, semuanya berjalan dengan lancar-lancar saja.
Selesai memberi pidato, aku didaulat berdiri di tengah panggung. Jantungku berdebar-debar. Inilah saat itu. Menerima hadiah Nobel yang bersejarah ini. Merupakan hal yang pertama kali bagi diriku untuk menerima penghargaan. Juga pertama kali bagi satrawan-sastrawan di tanah airku. Kuterima piagam berbingkai warna emas itu dengan hati berbunga-bunga. Kusalami dengan erat masing-masing anggota tim penilai yang penuh wibawa. Senyum gembira kulempar ke sana-kemari.
Pada jabatan tangan anggota tim penilai yang ke lima, aku terkejut. Bukan orang bule lagi dihadapanku. Di situ berdiri temanku satu kos dengan cengengesan, tapi berjas dan berdasi rapi. Dengan sedikit heran, bagaimana pula ia bisa menjadi anggota tim penilai hadiah nobel, ia kusalami juga dengan lebih erat. Lantas aku memeluknya untuk menunjukkan kebanggaan sebagai bangsa yang pernah meraih hadiah Nobel. Sebuah bangsa yang hendak menunjukkan kelasnya di dunia. Kami saling berpelukan dengan erat. Melepaskan rasa haru dan bahagia yang memuncak.
“Selamat…,” temanku berbisik di telingaku, “sekali lagi, selamat! Kamu berhasil juga akhirnya,“ ia menepuk-nepuk punggungku, “meski untuk sebuah karya yang tak akan pernah bisa dibaca…”
Aku gelagapan. Listrik mati! Masterpiece-ku belum di-save!
Rawabebek, Juni 2003
Kupu-kupu April 20, 2009
Posted by gondhess in cerita pendek.Tags: adzan, air, asyik, cerita, cerpen, hitam, imam, istri, jama'ah, kaligrafi, kasa, kumandang, kupu-kupu, kupu-kupu hitam, lembur, makmum, masjid, pendek, pulang, salam, sandal, serambi, sholat, sofa, televisi, wudhu
add a comment
Kupu-kupu di Serambi Masjid
Entah kenapa malam itu aku tiba-tiba kepengin sholat Isya berjamaah di masjid kompleks. Biasanya paling-paling hanya maghrib saja aku ikut berjamaah – kalau pulang kerja waktunya masih sempat, sesudah itu pulang ke rumah dan makan malam. Ketika tiba waktunya adzan untuk sholat Isya, biasanya kami sekeluarga sedang asyik di depan televisi, dan rasanya malas sekali untuk bangkit dari sofa.
Saat itu, kumandang adzan Isya rasanya kedengaran lain sekali. Seperti suara memanggil-manggil dari tempat yang jauh. Aku hampir merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan kepadaku seorang. Tentu saja ini hanya perasaanku saja, tapi yang jelas aku seperti merasa tergugah. Tiba-tiba ada perasaan cemas atau gelisah yang menghantui. Tak jelas mengenai hal apa, tetapi mengusik sekali perasaanku.
Aku bangkit dari depan televisi dan ke kamar untuk ganti baju dan memakai sarung serta peci. Aku keluar kamar dengan agak bergegas.
“Mau ke mana, Pa..?” istriku bertanya sambil memainkan remote control.
“Ke masjid. Sholat Isya, “jawabku singkat sambil menyampirkan sajadah ke pundak.
“Oo.. Kirain mau kenduri….,” cetus anakku yang lagi asyik menatap layar kaca.
“Hush! Kenduri aja yang dipikirin. Yuk ikut ke masjid.!?”
“Ogah ah. Nggak ada temennya,” jawabnya cuek.
Ia benar juga. Hampir tak ada anak sebayanya yang pada waktu Isya begini datang ke masjid. Semua anak-anak sedang asyik dengan acara tivinya masing-masing. Apa boleh buat. Sambil menutup gerbang aku masih berpikir-pikir tentang anak-anak sekarang. Teman bermain dan belajar mereka hanya tivi. Masih untung kalau menontonnya sempat didampingi orang tuanya. Tapi pada jam-jam segini banyak orang tua yang masih belum sampai ke rumahnya. Tiba-tiba aku merasa bersyukur sekali mendapat pekerjaan yang agak dekat rumah sehingga lebih punya banyak waktu untuk mengawasi anak-anak. Meskipun hasilnya masih jauh dari harapan.
Kumandang adzan terus memanggil. Marilah kita sholat. Marilah kita memperoleh keuntungan. Aku bergegas berjalan sepanjang jalan kompleks. Letak mesjid itu berada di tengah-tengah perumahan kami. Hanya dua blok saja dari rumah yang aku huni. Di depan sudah nampak serambi masjid yang terang benderang oleh lampu neon. Tidak kelihatan banyak orang di sana.
Setelah ambil air wudhu, kumasuki rumah ibadah ini dengan hati yang lebih jernih. Benar saja. Jumlah orang yang datang masih dapat dihitung dengan jari. Beberapa adalah tetanggaku yang aku kenal. Yang lainnya hanya pengurus dan ta’mir mesjid. Satu dua orang yang nampaknya dalam perjalanan. Ketika muadzin melantunkan iqomat, hanya satu baris saja shaf dibelakang imam. Itu pun tidak penuh.
Usai sholat, aku tidak langsung pulang. Duduk-duduk dan ngobrol dengan Pak Haji yang jadi Imam dan beberapa orang tetanggaku. Jamaah lainnya sudah langsung pergi begitu sholat selesai.
Masjid yang besar dan terkesan agung itu jadi nampak lengang oleh kami berempat. Kaligrafi-kaligrafi di tembok bagian atas seperti kesepian ditimpa cahaya. Ayat-ayat suci tersebut kini nampak seperti kurang wibawa dihadapkan pada zaman yang semakin bergegas. Obrolan kami bergaung ke sudut-sudut mesjid, memecah kelengangan.
Beberapa menit kemudian kami merasa harus pamit, saling bersalaman dan pulang ke rumah masing-masing. Petugas ta’mir mulai mematikan kipas angin dan lampu-lampu di dalam. Aku keluar melalui serambi depan yang sudah sunyi. Lampu-lampu di sini tidak dimatikan. Aku mencari-cari sandalku di sebuah sudut.
Di lantai keramik teras, persis sebelah atas tempat sandal kutaruh, kelihatan seekor kupu-kupu hitam, ah mungkin bukan hitam tapi karena sebelah sini kurang terang sehingga kupu-kupu itu kelihatan hitam seperti bayangan. Aku tak hendak mengusiknya, ia mungkin sedang istirahat setelah terbang kesana-kemari.
Aku baru merasa sedikit aneh, saat sedang mengenakan sandal, jarak kami begitu dekat, tetapi kupu-kupu itu diam saja. Tak merasa takut atau terusik. Ia mengepakkan sayapnya perlahan-lahan. Naluri ‘jawa’ku segera bekerja : apakah ini bukan kupu-kupu biasa, atau ini sebuah pertanda?
Sering dulu aku menertawakan ‘naluri’ku sendiri. Sebagai seorang yang berpendidikan dan hidup di kota, aku merasa harus hidup secara rasional dan membuang jauh-jauh segala kebiasaan kuno dan tak masuk akal. Namun diam-diam, karena pernah besar di kampung, perasaan antara percaya dan tidak percaya sering berdebat sendiri dalam pikiranku. Meskipun tidak sepenuhnya percaya, seringkali insting semacam itu menolong dalam perjalanan hidupku. Bagaimanapun, orang-orang dulu selalu membaca gerak-gerik dan gejala-gejala alam sebagai pertanda yang bisa dipercaya. Terutama dikampung-kampung, dimana hidup mereka masih dekat dan bersatu dengan alam. Seperti sebuah harmoni yang saling mengisi. Jelas hal tersebut tak sepenuhnya salah dan irasional. Paling tidak menolong dan memberi peringatan agar lebih waspada dan hati-hati dalam mengarungi kehidupan ini.
Sambil kuamati sekilas dan yakin bahwa itu hanya sebuah kupu-kupu, tidak lebih, aku menyeret sandalku dan berjalan pulang. Terutama karena tiba-tiba saja terngiang nyanyian Iwan Fals dalam benakku, Kupu-kupu Hitam Putih, yang bercerita tentang sebuah ‘pelajaran’ dari alam.
****
Sejak saat itu, setiap ada kesempatan aku selalu mengikuti sholat Isya berjamaah di masjid. Dan setiap kali pula aku berjumpa dengan kupu-kupu yang sama. Mula-mula karena merasa ada ‘naluri’ tadi, esoknya aku berniat untuk kembali sholat Isya ke masjid. Untuk membuktikan apakah aku akan menemukan kupu-kupu itu lagi. Benar saja, hari berikutnya ia menclok di ujung keset serambi, dan hampir-hampir terinjak kakiku. Esoknya lagi, ia nempel pada tiang dan terlihat saat aku sedang memakai sandal hendak pulang. Begitulah setiap kali aku hendak pulang dari masjid. Hal ini membuat aku penasaran dan aku semakin rajin saja datang ke masjid.
Hal ini menyebabkan istriku keheranan.
“Kok Papa rajin bener ke masjid sekarang?”
Itulah zaman sekarang. Ada orang rajin ke mesjid malah menimbulkan pertanyaan. Tetapi aku maklum saja. Soalnya sebelum-sebelum ini memang aku jarang ikut berjamaah sholat Isya.
“Yaah… Alhamdulilah. Gara-gara ada kupu-kupu itu,” ujarku sekenanya.
“Apa? Kupu-kupu? Di masjid lagi….” istriku makin keheranan.
Lalu kuceritakan semua yang kualami belakangan ini saat usai sholat Isya berjamaah. Istriku hanya tersenyum-senyum dan menganggap aku sedang menceritakan sebuah lelucon. Akhirnya aku juga turut senyum-senyum sendiri. Barangkali aku yang keterlaluan menanggapi perasaanku sendiri, padahal yang kualami itu sebenarnya hal yang biasa saja, tak ada istimewanya sama sekali. Tapi toh aku bersyukur bahwa kupu-kupu itu bisa menyebabkan aku rajin datang ke masjid.
Beberapa waktu kemudian, tugas-tugas pekerjaan membuat aku lembur dan baru sampai ke rumah sudah agak malam. Dengan sendirinya acara sholat ke masjid menjadi terganggu. Sudah beberapa hari ini aku absen. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari rutinitas melihat kupu-kupu di serambi masjd itu.
Suatu hari, aku sampai rumah sudah jam delapan malam. Setelah mandi, sholat dan makan malam aku bergabung dengan anggota keluarga lainnya di depan televisi. Sebenarnya aku bosan melihat acara televisi yang itu-itu melulu, tapi apa boleh buat, anakku selalu pegang kuasa di depan televisi kalau kita tak mau mendengar rengekan-rengekannya. Ia sudah kelas satu sekolah dasar, tapi karena anak satu-satunya, ia memang agak manja. Istriku, pembantu dan keponakanku yang tinggal bersamaku semua memanjakannya. Sambil iseng lalu kubuka-buka sebuah majalah.
“Pah.. pah… tadi ada kupu-kupu, lho.. Menclok di pintu depan…,” ujar anakku itu sambil menggoyang-goyang tanganku yang sedang memegang majalah. Rupanya acara kesayangannya sedang dipotong iklan hingga dia mengalihkan perhatian dari layar kaca.
“Kupu-kupu? Bagus, nggak?”
“Nggak begitu, sih. Abis warnanya hitam. Tapi besar lho, Pah…”
“Seberapa besarnya..? Kok nggak ditangkap..?”
“Nggak. Takut, ah! Lagian kata mama nggak boleh ditangkap. Katanya kupu-kupu itu sedang nyari Papa….”
Aku terkejut. Teringat kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu. Juga absen-absenku dari masjid beberapa waktu ini. Kulirik istriku, ia tersenyum-senyum penuh arti. Sungguh aku tidak bisa menebak dengan persis arti senyumannya itu.
“Yaah.. Mungkin. Tapi bisa jadi sedang nyari mamamu juga…” ujarku sambil melirik kembali istriku. Ia tersenyum makin lebar.
“Kok begitu sih, Pa…?”
“He..he..he… Kupu-kupu itu kan habis terbang jauh. Ia capek dan ingin istirahat. Makanya menclok di pintu. Kalau ia kita anggap seperti tamu, tentu yang dicari kan papa atau mama…?”
Anakku tak menanggapi lebih lanjut. Iklan telah selesai dan acara kesayangannya kembali berlangsung. Konsentrasinya telah beralih ke televisi kembali.
Malamnya ketika mau tidur, aku menanyakan kembali perihal kupu-kupu itu kepada istriku. Karena sudah disergap hawa kantuk, istriku tak menanggapi dengan serius. Lagipula dari awal dia memang tetap menganggap itu sebuah lelucon. Ketika kutanya kenapa dia bilang kalau kupu-kupu itu mencari aku, dia menjawab,
“Yah. Abis Papa kan sekarang udah jarang ke mesjid lagi. Padahal dulu kan rajin gara-gara kupu-kupu itu? Kupu-kupu itu kangen kali sama Papa. Huaaahhmm… Udah ah tidur. Sudah malam ini.”
Tapi aku tidak bisa tidur. Kupu-kupu itu memenuhi pikiranku. Berterbangan kian kemari mengisi ruang-ruang dalam ingatanku. Ribuan jumlahnya, mengepak-kepakkan sayapnya yang berwarna hitam keabu-abuan. Menyeretku terbang dan kemudian menjatuhkanku dalam dunia yang hitam pekat. Gelap!
Aku terjaga. Kulihat istriku masih tidur dengan nyenyak. Malam sedang bergeser perlahan. Lampu kamar yang remang melontarkan bayangan-bayangan ke dinding dan langit-langit. Seakan mengurungku diam-diam. Sulit sekali memejamkan mata kembali. Udara terasa pengap. Aku bangkit dan ke dapur minum air putih. Udara dingin sekali, sementara di jam larut ini terasa sangat hening dan sunyi.
Akhirnya aku ke kamar mandi, buang air kecil sekaligus ambil air wudhu. Mudah-mudahan dengan tahajud mampu mengusir kupu-kupu hitam dari benakku.
*****
Esok harinya, aku bisa pulang kerja lebih cepat, meski tiba di rumah pas maghrib. Selesai makan malam, aku bersiap-siap hendak ke masjid untuk jamaah sholat Isya. Istriku sudah senyum-senyum saja sembari membereskan meja makan. Tak lama kemudian terdengar adzan bekumandang.
“Tuh, Pa. Sudah adzan. Salam buat si kupu-kupu ya?” bisik istriku cengengesan sambil membawa piring kotor ke dapur. Aku tidak menanggapi gurauannya.
Aku bergegas berangkat. Ada harap-harap cemas, ada semacam rasa gelisah, juga sedikit rasa takut. Persis seperti dulu waktu aku pertama kali menemukan kupu-kupu itu.
Masjid masih juga terasa sepi dan lengang, meski terang benderang. Tidak banyak orang yang datang, tak ada yang berubah. Yang kelihatan juga orang-orang yang sama. Seperti biasanya, makmum hanya satu shaf dan tidak penuh.
Usai sholat dan salam-salaman, aku langsung pamit. Entah kenapa yang lain juga turut bergegas pulang. Barangkali ada keperluan masing-masing. Seperti biasanya aku berjalan ke serambi. Di situ masih terang benderang, dan nampak ada seorang petugas masjid sedang menyapu. Aku tersenyum menyapa,
“Kok nyapu malam-malam?”
“Ah nggak. Ini ada kupu-kupu mati, ntar terinjak kaki. Jadi saya bersihkan saja.”
Aku terkesiap. Kupu-kupu? Mati?
“Kupu-kupu? Coba saya lihat. Bener sudah mati!?” Aku cepat-cepat menghampirinya. Dibawah sapunya, tergolek kupu-kupu hitam. Seperti kupu-kupu yang selama ini aku jumpai. Diam tak bergerak dan nampaknya memang sudah mati. Aku merasa sedih, menyesal. Aku merasa kecewa sekali. Merasa berdosa atau bersalah tapi juga tak jelas benar ujung pangkalnya. Yang jelas aku merasa seakan-akan ada yang rontok satu per satu dari jiwaku. Sebuah lambang perlahan-lahan turun menciptakan semacam bendera setengah tiang.
Aku mengais-ngais perasaanku, mencari-cari ‘naluri’ku yang biasanya tanggap dan bisa membaca setiap peristiwa di depan mata. Aneh. Perasaanku jadi kosong. Serasa nol. Sebuah jalan yang lebar telah membentang tapi aku merasa ketakutan disergap kesendirian. Sunyi sekali malam ini.
Aku segera mengontrol diriku kembali. Dengan rasa kecewa aku berjalan pulang. Malam itu aku kembali sulit tidur. Bayangan kupu-kupu yang tergolek tak bergerak kembali memenuhi kepalaku. Kupu-kupu itu kini tak bisa terbang kembali. Ribuan kupu-kupu yang mati terus bertumpuk seperti onggokan sampah. Petugas mesjid dengan setia menyapu dan membersihkannya. Namun setiap saat tumpukan itu menggunung kembali. Bagai daun-daun yang rontok berguguran di tiup angin. Setiap disapu, setiap itu pula bertumpuk kembali. Namun petugas itu melakukannya dengan tenang saja, tanpa ada rasa capek atau kesal. Tak ada perubahan raut wajahnya. Seperti sebuah rol film yang diputar berulang-ulang. Lama-lama aku melihat bahwa penyapu itu tak lain adalah diriku sendiri.
Aku menyapu setiap kupu-kupu yang menggeletak dan mati. Bertumpuk-tumpuk selalu teronggok kembali. Aku terus bekerja keras tanpa suara. Tanganku makin pegal dan capek. Rasanya sudah berjam-jam lantai serambi ini kubersihkan, tapi setiap berbalik sudah kotor lagi oleh bangkai kupu-kupu yang berserakan. Aku memejamkan mata. Tetapi kupu-kupu terus bergelimpangan mengotori lantai. Samar-samar, diantara kapu-kupu yang kusapu rasanya aku melihat beberapa silhuet membentuk raut yang kukenal. Wajahnya itu! Kepalanya itu! Tak lain tak bukan adalah wajah anak dan istriku, juga teman-teman jamaah di masjid sedang terkekeh-kekeh menertawaiku! Aku membuang sapuku.
Tulisan kaligrafi pada dinding sebelah atas yang biasanya indah serasa memelototiku. Seakan-akan menyemprotkan makian-makian pedas. Pintu utama masjid yang terbuat dari panel kayu berukir tiba-tiba seperti mulut raksasa yang hendak mengunyahku lumat. Aku berlari jatuh bangun dan terseok-seok. Terjerembab di halaman masjid, aku tak memikirkan lagi sandalku yang tertinggal. Terdengar bunyi gemuruh. Nampaknya seluruh isi masjid sedang menertawai kebodohanku. Aku istighfar beberapa kali.
Aku terbangun gelagapan. Nafasku masih memburu. Setelah agak tenang aku bisa melirik jam dinding di tembok depanku. Lewat tengah malam. Kulirik istriku, masih lelap seperti biasanya. Rasanya konyol sekali mimpi barusan. Tapi dalam hati yang paling dalam, aku sangat bersyukur. Masih diingatkan, meski dengan cara yang sedikit aneh.
Aku bangkit ke kamar mandi, hendak ambil air wudhu. Aku ingin tahajud untuk memanjatkan rasa syukurku, juga penyesalanku atas kesalahan yang kulakukan. Persis tepat di atas kran tempat wudhu, ada kupu-kupu hitam bertengger. Sayapnya yang lembut berkepak perlahan sekali. Aku terkesiap. Kemudian tersenyum kecut.
Kulirik lobang angin di tembok sebelah atas. Sudah beberapa kali istriku mengingatkan aku untuk mengganti kasa nyamuk yang sudah sobek dan bolong-bolong, tapi belum sempat kulakukan. Bunyi percikan air yang menyemprot lantai memecah kesunyian. Kupu-kupu itu kaget, lalu terbang berputar-putar dan melalui lobang angin keluar menembusi kegelapan malam.
Rawabebek, 17 Juni 2003
Be Inspired..! Maret 2, 2009
Posted by gondhess in Enak dibaca.add a comment
Tentu anda pernah membayangkan si Archimedes berlari-larian tanpa baju ke jalanan sambil teriak-teriak “Eurekaa… eureka… eurekaa…!” ketika secara ajaib berhasil menemukan hukum-hukum air dan bejana berhubungan. Konon katanya dia menyadari atau menemukan ilmunya setelah menyemplungkan dirinya ke dalam bak mandi. Begitulah cerita yang aku peroleh ketika diperkenalkan dengan hukum archimedes waktu es de.
Kini tentu saja cerita semacam itu agak sulit dipercaya. Sama seperti sulitnya mempercayai si Newton menemukan hukum gaya gravitasi saat duduk di bawah pohon apel dan kebetulan ada apel yang jatuh. Hukum-hukum gaya yang njelimet dan penuh dengan rumus-rumus itu, yang sempat menjadi momok saat sekolah menengah, jelas tidak ditemukan begitu saja secara ajaib. Ini bukan mistik. Melalui beribu-ribu percobaan dan kegagalan lah ilmu itu muncul, sehingga hukum-hukum yang terumuskan pun jadi pasti, awet, dan belum terbantahkan hingga kini.
Dapat kau bayangkan, jika archimedes harus ribuan kali nyempung ke air tentu tiap hari dia akan meriang panas dingin. Dan Newton akan tiap kali keserang angin duduk dan masuk angin gara-gara keseringan nongkrong di bawah pohon menunggu apel jatuh.
Inspirasi, mungkin satu kata yang tepat untuk mendudukkan persoalan menjadi lebih masuk akal. Inspirasi bisa datang dari apa saja. Dari siapa saja. Tapi ia adalah titik yang memungkinkan segala sesuatu bisa menjadi kenyataan. Jadi ketika melihat air tumpah dari bak, atau gedebuknya apel jatuh dari pohon, itulah yang menjadi inspirasi, sebuah titik api pencerahan ke arah terang benderang. Yang terjadi kemudian adalah percobaan-percobaan dan pengulangan-pengulangan, dan tentu saja setiap kali menimbulkan kegagalan dan ketidak puasan, sampai akhirnya menemukan keyakinan, yang sudah teruji oleh keragu-raguan tiap waktu.
Karena itu, menjadi mengherankan bahwa di saat kini orang masih mengharapkan terjadinya hal-hal besar muncul secara ajaib. Menginginkan mukjizat. Serba ingin instan. Padahal segala sesuatu mestinya perlu diperjuangkan. Karena sesungguhnya pada akhirnya bukan hasil itu sendiri yang penting, melainkan prosesnya, kegagalan-kegagalan itu, yang membuat kita banyak belajar, yang membuat kita semakin pintar.
Tapi memang juga beberapa hal tak dengan sendirinya jadi mudah. Seringkali buntu, dan merasa kosong sama sekali. Tak ada ide atau inspirasi yang nongol, meski bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok telah ludes dalam permenungan. Pegangan terasa luput, kaki seperti terserimpet sesuatu. Yang datang malah bermacam-macam bayangan buruk ketakutan kita sendiri, rasa khawatir bahwa semua akan berakhir begitu saja.
Beberapa hari ini ada teman yang sering menelpon, mengajak bisnis atau usaha apa saja. Dia rupanya sedang buntu ide, lalu merengek-rengek ke saya. Akan halnya saya sendiri untuk saat ini jelas belum punya pikiran untuk memulai usaha atau bisnis. Disamping tidak punya modal, dan juga rencana-rencana besar, saya juga punya pikiran jelek terhadap diri saya sendiri, yakni bahwa saya ini tak punya jiwa bisnis, tak punya otak dagang sama sekali. Pernah sekali jadi sales, itu pun tak mampu menjual barang satu unit pun, padahal sudah cukup berusaha (menurut saya) keras, sebelum pada akhirnya berputus asa dan menyerah. Segala teori dan strategi salesmanship sebenarnya sudah cukup dikuasai. Bahkan sebelum terjun ke lapangan, sebenarnya sudah dibekali semacam kursus dan diklat. Percaya atau tidak, dalam setiap kali diklat semacam itu, saya selalu punya prestasi, paling tidak menjadi juara dua atau tiga pada saat evaluasi akhir, dari sekian banyak peserta. Namun ya itu, di lapangan saya menjadi nol besar. Barangkali saya memang tidak berbakat. Atau katakanlah tidak punya semacam jiwa wira usaha.
Tapi benarkah itu? Terus terang saya sendiri juga tidak terlalu yakin. Tidak pasti. Paling tidak dalam kehidupan sehari-hari toh saya masih sedikit menghitung-hitung juga, berapa banyak yang akan saya dapat, dan seberapa besar yang harus saya korbankan, ketika harus mengerjakan sesuatu. Seperti juga kebanyakan orang. Setidak-tidaknya ketika harus mengerjakan sesuatu, saya masih sempat berpikir : apa untungnya buat saya dengan melakukan ini? Bukankah ini seperti bibit-bibit jiwa dagang juga?
(lho kok malah cerita diri sendiri, ya? Sorry pren..
Kembali ke kawan saya itu. Dia bilang sudah mencoba bermacam-macam cara memulai bisnis, tapi hasilnya belum seperti yang bisa diharapkan. O iya, kawan saya itu sebenarnya seorang pegawai BUMN dengan gaji lumayan, istrinya seorang dokter gigi, jadi secara ekonomi sebenarnya sudah cukup mapan. Namun baginya tentu saja belum cukup. Bagi siapapun, keinginan dan harapan-harapan akan selalu lebih tinggi daripada apa yang dapat ia capai. Ini rumus, Bung!
Saya sudah sarankan berbagai hal, tentang usaha ini itu. Tapi jawabanya adalah selalu bahwa usaha itu sudah ada yang menjalankan, atau usaha itu terlalu beresiko, atau bahwa usaha itu tak ada hasilnya (untuk mengatakan bahwa hasilnya sedikit), dan lain-lain. Pendek kata, tak ada yang memenuhi seleranya. Ia ingin sesuatu yang baru, yang unik, yang modalnya bisa dikover, dengan prospek menjanjikan, dengan keuntungan besar, dan realistis. Hah? Semua orang juga menginginkan itu, bro!
Maka yang dapat saya sarankan adalah : carilah ide segar, gali inspirasi. Darimana saja.
Namun ya itu, inspirasi memang tidak mudah kita dapatkan. Apalagi bila kita sedang terfokus pada sesuatu, maka yang lain akan tertutup tabir. Bahkan saat kita menemukannya, mungkin juga segera kita abaikan. Anda ingat, barangkali ribuan orang pernah melihat apel jatuh, mangga jatuh, durian jatuh, bahkan orang jatuh (?), tapi hanya ada seorang Newton. Tak terhitung banyaknya orang yang terjun ke bak mandi dan menyebabkan kamar mandi banjir, tapi hanya ada seorang Archimedes. Sisanya paling kena marah seisi rumah, bahkan kalau apes malah terserang flu dan demam.
Saya jadi ingat pada sebuah acara di tivi. Pada sebuah perbincangan tentang pencerahan kehidupan, salah satu pembicara menyarankan untuk mengingat kembali film trilogi “The Matrix” yang diperankan Keanu Reeves. Bukan ceritanya yang ruwet dan mengerikan tentang masa depan manusia dan mesin, melainkan adegan slow motion yang banyak sekali dalam film tersebut. Dimana peluru yang sebenarnya melesat secepat kilat, ditampilkan dalam adegan lambat, seperti perlahan-lahan mengiris angin, membelah udara, mendesau tanpa suara, hingga timbul gelombang yang indah sekali…
Apa yang hendak disampaikannya adalah bahwa dalam hidup, kita perlu sekali-sekali ber-slow motion, memperlambat ‘gerak’ pikiran. Kita perlu merasakan kembali tubuh kita, bagaimana kita bernafas setiap detik, bagaimana darah mengalir ke seluruh tubuh, bagaimana denyut nadi berdetak seiring denyutan jantung, bagaimana lidah bisa merasakan segarnya air putih, atau es krim (!), bagaimana sebuah bunyi bisa mejadi kuat bernada dalam musik, bagaimana rambut tumbuh sel demi sel, bagaimana sepotong daun perlahan-lahan menguning di halaman, bagaimana air embun perlahan menetes dari pucuk-pucuk perdu, bagaimana lembutnya angin sore menyisir wajah dan rambut kita, begitu lembut, begitu mesra. Dengan kata lain, kita mesti memperhatikan lagi hal-hal yang kita anggap kecil di sekeliling kita, yang selama ini kita anggap sepele.
Siapa tahu, dari sana akan segera muncul inspirasi, lalu ide-ide yang segar, yang menuntut untuk diwujudkan. Paling tidak dari situ kita tahu bahwa sebenarnya kita sudah punya bekal yang cukup untuk merasa berbahagia. Bukankan itu yang selama ini kita cari?
Makanya, sekali-sekali, dengarkanlah kembali lagu lama Louis Armstrong, “What a wonderful World”
I see trees of green, red roses too,
I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world….
Suara Armstrong yang serak-serak berat itu, memang full inspired. Tak percaya?
BCL, LemahAbang, Akhir February 2009
Yadhie M. Setiyadi
Sekolahan Maret 2, 2009
Posted by gondhess in Enak dibaca.add a comment
Coba renungkan sejenak. Dari taman kanak-kanak, es de, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi kita belajar. Tapi bila ditanya tentang sekolahan dulu, ingatan yang pertama-tama muncul tentu ini : teman-teman akrab, tempat-tempat kita bermain, pojok-pojok kantin, toilet yang jorok dan bau, dan juga – tentu saja – kenakalan-kenakalan yang kita perbuat. Mana buku pelajaran matematika itu? Mana buku pelajaran fisika, kimia biologi itu? Mana pelajaran bahasa itu? Ada, tentu saja ada, tapi kita harus menggalinya lebih jauh dari ingatan. Yang kita ingat adalah Pak Guru anu yang galak, Bu Guru bahasa yang manis, Kepala sekolah yang streng, Guru olah raga yang cuek, Pak bon yang baik hati. Jadi persis. Kita adalah mahluk sosial, bukan robot, maka yang kita ingat pertama kali adalah hal-hal yang humanis dan manusiawi. Kita tak lagi jadi sekedar kamus atau ensiklopedi.
Karena itu, begitu pentingkah sekolah? Apalagi pada zaman ini, dimana biaya sekolah menjadi begitu mahal. Baru masuk TK saja sudah berjuta-juta. Apalagi sampai perguruan tinggi. Sementara uang menjadi semakin susah dicari. Entah ngumpet dimana, padahal menurut ukuran normal, kita sudah bekerja begitu keras memeras keringat, tapi begitu dapat uang, ia lewat begitu saja, mengalir seperti air kali yang butek dan tahu-tahu kita sudah tak kebagian apa-apa.
Yang sedang ngetrend saat ini adalah apa yang dinamakan home-schooling, sekolah di rumah. Belajar dengan mengambil guru profesional secara privat, dengan kurikulum khusus namun tak beda jauh dengan sekolah umum. Di rumah? Namanya bukan sekolahan, dong… Kok masih pake school? Jelas, tentu saja. Sekolah – school – asal katanya tidak merujuk suatu “tempat”, melainkan suatu proses belajar mengajar, meskipun dalam benak kita tiap kali kata sekolah disebut, akan muncul bayangan gedung yang panjang dengan banyak jendela lebar-lebar, dengan halaman luas tempat lapangan basket, volley, atau bulu tangkis, dan tentu saja untuk upacara bendera tiap hari Senen.
Mengapa home-schooling? Barangkali karena sibuk. Anak-anak sejak kecil sudah sibuk bekerja jadi artis misalnya. Karena itu tak ada waktu untuk duduk memelototi papan tulis dari jam 7 pagi hingga jam 1 siang. Atau karena sekolahan itu sendiri yang sudah tidak lagi efektif menantang perubahan jaman. Bahkan yang seperti menjadi trend akhir-akhir ini, banyak terekam adegan kekerasan dalam lingkungan sekolah. Bagaimana para orang tua tidak menjadi ngeri? Atau karena sifat-sifat khusus anak yang mengharuskan dia home-schooling. Anak autis misalnya. Entah kenapa, saat ini juga menjadi begitu banyak anak-anak yang kena gejala autis. Mungkin karena lingkungan kehidupan dengan segala aspeknya yang sudah begitu banyak tercemar.
Yang menurut saya agak menyayangkan dari home-schooling mungkin adalah kenangan manis apa yang hendak dia bawa saat dewasa nanti tentang masa sekolahnya. Dengan kata lain, interaksi sosial dengan teman-teman sebaya dipastikan berkurang. Tapi memang jaman mungkin telah berubah. Manusia-manusia telah tumbuh menjadi semakin individualistis. Sejak kecil yang ditanamkan adalah jiwa persaingan, berkompetisi, berlomba, dan bertanding. Dalam ‘kode etik’ semacam itu, yang ada kemudian adalah rasa menang dan kalah. Ada yang merasa menang, dan tentu saja ada yang dikalahkan. Ada yang nomer satu. Dan ada yang nomor sewidakrolas. Dalam hal ini, yang kemudian tumbuh adalah bahwa pihak lain, anak-anak lain, teman-teman, adalah semacam ‘musuh’ yang harus dikalahkan. Persahabatan, pertemanan, menjadi seperti klise. Semacam kontrak sosial. Kerjasama, teamwork, bisa selalu ada, namun juga selalu dalam rangka ‘mengalahkan’ pihak lain.
Apakah selalu harus seperti itu? Saya yakin tidak. Humanisme, selalu menemukan jalannya dan bentuknya sendiri. Ketakutan akan kekerasan dan perpeloncoan yang ada disekolahan yang akhir-akhir ini jadi berita, sebenarnya juga bukan hal yang menyedihkan betul. Kekerasan memang tak bisa dibenarkan, tapi perpeloncoan yang kreatif akan menyisakan kenangan manis tersendiri.
Sebagai alumnus berbagai sekolahan sejak bangku TK, saya juga mengalami berbagai perpeloncoan, namun justru itulah kenangan yang paling melekat dari sekolahan yang sudah saya tinggalkan itu. Yang terberat tentu adalah masa-masa SMA, ketika harus (diwajibkan) menjadi anggota Pramuka atau PMR. Harus kemping di musim penghujan, harus long march sepanjang malam di daerah yang belum dikenal, dalam hujan. Harus menyuruk-nyuruk dalam got yang berlumpur, memanjat bukit yang superlicin (karena hujan), menaiki tembok tinggi, nyeberang kali, ditakut-takuti dalam kuburan yang gelap dan sebagainya. Atau ini, yang paling bikin jengkel : lagi tidur enak-enak tiba-tiba dibangunin, dikumpulin, lalu diperintah untuk tiarap di lapangan, kemudian disuruh berbaris satu-satu, jalan dalam gelap hingga akhirnya tiba di … kuburan! Dan disitu diceramahi macam-macam. Katanya ini adalah renungan malam…. Sebuah proses transformasi jiwa. Saya tentu saja tak percaya. Kan mending tidur, wong malam-malam dan dingin begini. Siapa yang perduli dengan pencerahan, kesadaran, dan sebagainya. Tapi ada loh yang begitu menghayati sampai nangis nggerung-nggerung…
Pada saat itu, tentu saja saya merasa menjadi orang paling menderita, tapi kini jelas menjadi kenangan yang manis. Dan alhamdulilah saya belum pernah mengalami kekerasan dalam lingkungan sekolahan. Bahkan ketika masuk perguruan tinggi pun, perpeloncoan malah terasa asyik. Bayangkan saja, pada saat itu jelas bertemu dengan anak-anak baru dari berbagai penjuru negeri, sama-sama dalam penderitaan jadi korban iseng para senior. Yang ada kemudian adalah rasa senasib sepenanggungan yang jelas memunculkan bibit-bibit persahabatan. Bayangkan pula bila anda ketemu cewek (atau cowok) yang baik hati dan tidak sombong, cakep pula (karena baru pertama ketemu!). Wah! Hidup terasa jadi superstar… karena sama-sama belum ketahuan belangnya…
Jadi, ketika ditanya masa-masa sekolah dulu, tentu yang teringat dengan cepat adalah si A, yang setia jadi kompanyon membolos, atau si B, partner dalam hal bagi-bagi rokok di pojok kakus yang pesing, atau si C yang ahli dalam meniru tanda tangan buat titip absen…. atau si D, yang fotokopi bahan kuliahnya selalu lengkap (meski tak pernah kebaca). Ah si D ini, saya jadi ingat orangnya, yang pergaulannya begitu luas. Relasinya banyak, terutama diantara para cewek-cewek yang biasanya memang rajin mencatat dan mengumpulkan bahan kuliah. Alhasil, si D ini juga lengkap fotokopi bahan kuliahnya. Jadi menjelang ujian, dia memang jadi andalan. Tidak perlu repot kesana-kemari, cukup datangi dia, fotokopi semua, dan bum! Bahan-bahan ujian kita akan selengkap anak yang sama sekali tak pernah bolos selama satu semester! Komplit dengan referensi-refensi sang dosen. Tapi anehnya, si D ini kok nilainya seringkali malah jeblok! Mungkin baginya bukan bahan kuliah itu yang penting sungguh, melainkan kesempatan ketemu sama cewek-cewek guna meminjam catatan itu yang selalu didamba…
Maka, sesungguhnya saya bukanlah pengikut Ivan Illich yang menganjurkan de-schooling society, semacam ‘pemberangusan’ sekolah. Sekolah memang perlu dan penting. Tapi melihat anak-anak sekolah sekarang, saya kadang-kadang merasa sesak nafas. Berangkat pagi-pagi sekali, pulang nanti menjelang maghrib. Harus les ini itu, pembekalan, pengayaan materi, bimbel, ekstra kurikuler, dan hal hal ‘aneh’ lainnya. Capek sekali melihatnya.
Seolah semuanya adalah urusan yang serius. Tak ada lagi main-main. Sebab sekali engkau main-main, maka engkau akan tersingkir ke urutan yang penghabisan! Mengerikan sekali. Tiap saat harus bergelut dengan buku, agar bisa menjadi nomor satu. Padahal yang nomor satu itu jelas hanya satu. Hidup seperti tak ada sisa. Tak ada tempat kosong lagi. Ruangan telah penuh atas nama persaingan dan kompetisi.
Benarkah kehidupan didesain untuk menjadi seperti itu? Tak tahulah aku! Saya hanya berharap bahwa mereka ini nantinya akan tetap tumbuh menjadi manusia-manusia yang lengkap. Yang bisa merasakan bahwa bahagia itu ada, tetap menjadi haknya. Meski tak selalu harus menjadi nomor satu.
BCL, LemahAbang, awal Maret 2009
Yadhie M. Setiyadi
Software Cracking Februari 27, 2009
Posted by gondhess in Uncategorized.6 comments
Apa itu nge-crack
Pada dasarnya program yang sudah di-crack berarti sudah diubah sebagian atributnya atau instruksinya, atau diintip bagian ‘dalam’ program untuk mengetahui proteksi yang diterapkan agar dapat diantisipasi, dan pada akhirnya program itu dapat berjalan atau dapat dieksekusi sebagaimana mestinya, meskipun program tersebut bukan dibeli secara resmi. Perlindungan terhadap program komersial biasanya adalah dengan menerapkan registrasi, pemberian serial number, password dan sebagainya.
Mulanya, agar suatu program baru dapat dikenali atau diketahui user sebagai pengguna, maka program tersebut perlu dipasarkan. Nah konsep pemasaran dalam hal software salah satunya adalah dengan memberikan program untuk digunakan secara cuma-cuma alias bebas didownload, untuk dicoba oleh para pemakainya. Tentu saja dengan limitasi atau batasan-batasan tertentu, seperti trial software untuk pemakaian beberapa hari (umumnya 30 hari), tidak bisa menyimpan hasil kerja (save file), atau tidak diaktifkannya option-option tertentu lainnya dalam program tersebut. Nah bila konsumen (user) tertarik, ia dapat membeli kepada vendornya. Setelah proses pembelian, vendor biasanya akan mengirimkan kepada pembeli suatu kode tertentu untuk membuka proteksi program. Kode tersebut bisa berupa nomor registrasi, serial number, key generator, password dan sebagainya. Nah dengan dibukanya proteksi tersebut, program akan dapat dijalankan secara full capacity.
Proses cracking biasanya bekerja pada program-program dengan limitasi tersebut, yaitu dengan cara mengintip dan mengutak-atik instruksi dalam badan program tersebut, sehingga dapat mengantisipasi limitasi yang ada, dan program dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Tentu saja cara semacam ini adalah illegal karena dalam setiap agreement pemakaian program, user tidak dibenarkan mengutak-atik isi program yang bersangkutan. Pengguna software hasil cracking juga tidak dapat memperoleh up-date terbaru dari vendor, perbaikan bug yang ada serta fasilitas-fasilitas lainnya. Penggunaan program hasil cracking juga dapat memberikan masalah-masalah baru seperti kurang stabilnya program, dapat membuat komputer hang dan sebagainya. Maka yang paling aman sebenarnya adalah dengan membeli program tersebut secara benar melalui vendornya, sehingga kita akan memperoleh informasi yang lengkap serta jaminan yang memadai untuk penggunaan program tersebut.
Kenapa Software bisa di-crack?
Sebenarnya cukup sulit untuk menembus atau membaca program yang sudah jadi (executable). Kecuali kalau kita bisa mengetahui source code programnya. Namun hal tersebut tentunya mustahil, karena penulis program akan menyimpan rapat-rapat source code programnya agar tidak diketahui oleh yang tidak berkepentingan. Hal ini tentunya hanya berlaku terutama bagi program-program komersial, lain halnya dengan software dengan lisensi Open Source/GNU, misalnya Linux, yang selalu memberi source list-nya disamping program yang executable. Jadi program executable memang penuh misteri dan tak bisa dibuka dalamnya.
Namun ada segi kelemahan dari setiap program ketika berhubungan dengan hardware komputer, yakni kenyataan bahwa komputer hanya dapat memahami bahasa mesin (digital/binary). Jadi meski dengan bahasa apapun program ditulis, ketika berhubungan dengan komputer ia akan ‘menerjemahkan’ diri ke dalam bahasa mesin. Nah ‘ruang’ antara bahasa tingkat tinggi (yaitu bahasa untuk menulis program seperti C/C++, Pascal, Delphi, Visual Basic, dsb.) dengan bahasa tingkat rendah (bahasa mesin/ binary) terdapat bahasa tingkat menengah yaitu bahasa assembly. Bahasa assembly merupakan kombinasi antara bahasa logic (tingkat tinggi) dengan bahasa binary (angka-angka digital yang disimbulkan dengan basis hexadecimal). Dengan tool/utility disassembler, sebuah program yang executable dapat dibuka dan diintip jeroannya. Tentu saja dalam bentuk bahasa assembly. Jadi bagi yang mengerti bahasa assembly, ia dapat melacak dimana dan bagaimana sistim proteksi dikenakan dalam suatu program dan bagaimana mengantisipasinya. Tool disasembler yang sangat powerful dengan interface friendly barangkali adalah Windasm 8.93, yang menjadi favorit para cracker, meski masih banyak yang lain..
Selain itu, kerja komputer/prosesor yang selalu berdasarkan prinsip-prinsip logika dan urutan/antrian memberikan ‘ruang’ bagi utility debugger untuk interupsi ke dalam program yang sedang berjalan. Debugger sebenarnya dibuat untuk mencari dan memperbaiki bug yang terdapat dalam suatu program. Namun karena fleksibilitasnya dalam memperbaiki instruksi-instruksi yang menimbulkan bug tersebut, penggunaannya dapat diselewengkan justru untuk ‘membelokkan’ instruksi-instruksi yang sudah benar menjadi instruksi yang sesuai dengan keinginan si cracker. Rutin program yang dijalankan berurutan dapat distop pada suatu tempat tertentu (breakpoint) dan kemudian ‘diselidiki’ proses rutin apa yang telah, sedang, dan akan dijalankan.
Interupsi oleh suatu debugger yang sedang berjalan tentu saja hanya dapat dilakukan oleh program/utility debugger yang beroperasi secara hardware-level. Contohnya Soft-Ice dari Nu Mega. Lagi-lagi karena beroperasi pada level yang rendah, maka debugger ini bekerja dalam bahasa assembly. Jadi bagi yang mengerti bahasa assembly ia dapat meng-crack program yang sedang berjalan tersebut.
Pada dasarnya ada dua metode cracking yang sering dilakukan oleh para cracker, yakni ‘dead listing’ dan ‘live cracking’. Dead listing dilakukan dengan cara mengubah atau membelokkan instruksi yang ada pada badan program secara permanen, sedangkan ‘live cracking’ bekerja dengan mencari nomor registrasi, s/n atau password yang benar yang terdapat dalam badan program, dan itulah yang kemudian dimasukkan pada saat program yang dieksekusi meminta nomor registrasi, s/n, atau password.
Dead Listing
Sebuah program yang pada saat dijalankan meminta registrasi atau s/n atau password, program itu akan tahu dan menolak nomor yang salah. Hal ini berarti menunjukkan bahwa dia mengetahui atau menyimpan kriteria nomor yang benar untuk diperbandingkan dengan nomor yang dimasukkan oleh user, sehingga dia dapat membedakan antara nomor yang salah dengan nomor yang benar. Nah hal inilah yang dicari oleh para cracker dalam proses cracking.
Dengan utility Disassembler yaitu sebuah tool yang dapat mengkonversi file-file executable ke dalam format Assembly, maka dapat ditelusuri dimana instruksi yang memperbandingkan nomor registrasi tersebut. Tentu saja bagi yang awam bahasa assembly hal ini sangat sulit dilakukan. Bagi yang sudah tahu bahasa assembly-pun yang dapat dilakukan hanyalah proses menelusuri kemungkinan-kemungkinan alias trial and error. Tapi bagi seorang cracker, atau seseorang yang sudah sering nge-crack mungkin bukan perkara sulit.
Salah satu cara untuk mempermudah pencarian adalah dengan mencari ‘string’ data atau teks dalam badan program. Kita akan mengetahui string yang muncul saat mengeksekusi program. Pada saat program meminta user name dan reg. number, dan kita memasukkan sembarang data, begitu tombol OK diklik, akan segera muncul pop-up window yang memberi pesan misalnya ‘wrong code’, ‘invalid number’, ‘invalid key’, dan sebagainya. Nah, setelah program tersebut di-disasembler, kita bisa mencari ‘string’ pesan (string data reference) tersebut dan mencari kode asembbly-nya. Tool disasembler yang memiliki fasilitas lengkap tersebut adalah, diantaranya, Windasm32 version 8.93.
Nah bila instruksi tersebut sudah ditemukan, tinggal diselusuri kode-kode program di atasnya. Dalam kode assembly, program akan selalu mengalir/berjalan dari atas (awal) ke bawah (akhir). Secara logis, munculnya pop-up (string) pesan kesalahan tadi pasti didahului oleh proses pembadingan kode yang kita masukkan. Itulah makanya yang kita telusuri adalah kode-kode di atasnya (sebelumnya). Penelusuran ini harus mencari terjadinya lompatan (jump) yang sangat penting dalam kode program setelah pembandingan. Dalam pembandingan tersebut dipastikan terjadi dua alternatif yakni benar atau salah. Jika benar lompat (jump) ke baris/alamat tertentu yang menampilkan ‘string’ pesan seperti ‘congratulations!’, ‘you’re now registered’ dan sebagainya, dan jika salah lompat ke baris/alamat yang menampilkan pesan ‘wrong code’, ‘ivalid number’ dsb. yakni yang kita cari tadi.
Nah jika baris ‘jump’ tersebut ditemukan, tinggal mengganti instruksi bahasa assembly tersebut menjadi sebaliknya. Misalnya dalam membandingkan nomor registrasi tersebut instruksi yang ‘asli’ mensyaratkan “jump if equal” (je) yang berarti melompat ke baris instruksi tertentu jika nomor yang dibandingkan sama atau benar, maka dapat diganti sebaliknya yaitu “jump if not equal” (jne). Ini berarti bila nomor yang kita masukkan salah (karena kita memang tidak tahu nomor yang sebenarnya) maka proses akan jump juga ke baris instruksi yang dimaksud. Tapi jika kita misalnya mengetahui dan memasukkan nomor registrasi yang benar (kalau sudah tahu, untuk apa nge-crack?) maka proses justru akan menganggapnya nomor yang salah.
Utility/tool disassembler tidak menyediakan fasilitas untuk mengutak-atik isi program melainkan hanya mengkonversi saja sehingga dapat dibaca dalam bahasa assembly. Oleh karena itu diperlukan utility lain yaitu Hex Editor. Bahasa assembly bekerja dalam modus logic dan angka dalam format hexadecimal. Oleh karena itu Hex editor sangat tepat dalam hal ini. Hex Editor adalah sebuah utility yang mengkonversi file-file program kedalam format hex (hexadecimal). Selain itu Hex editor sesuai namanya memberikan fasilitas untuk mengedit, yang berarti kita dapat mengubah atau mengutak-atik isi program.
Pada saat kita menemukan instruksi yang akan kita ubah (dalam disassembler) kita perlu mencatat dengan persis angka-angka hex serta alamat/nomor instruksinya. Angka dan alamat tersebut kemudian dicari melalui Hex Editor, baru kita mengubahnya dan menyimpannya (save file). Kemudian jalankan program, isi nomor registrasi dengan sembarang nomor, dan buuum! Anda telah terregistrasi dengan baik.
Beberapa angka Hex yang menjadi ‘hapalan’ para cracker sbb: Je = 74 (Jump if Equal) Jne = 75 (Jump if Not Equal) Jz = 84 (Jump if Zero) Jnz = 85 (Jump if Not Zero) Nop = 90 (no operation = menonaktifkan suatu baris instruksi)
Live Cracking
Berbeda dengan ‘dead listing’, live cracking tidak berarti mengubah instruksi dalam badan program, meskipun kadang-kadang perubahan instruksi tetap diperlukan. Metode ini justru mencari nomor registrasi atau s/n yang ‘benar’ (atau yang dianggap benar oleh program) yang tersimpan dalam badan program. Untuk mengetahui lokasi yang mendekati tepat dimana nomor registrasi yang benar berada, kita harus masuk ke badan program tepat pada saat program hendak memperbandingkan antara nomor yang kita masukkan dengan nomor yang benar secara ‘live’.
Kita tahu jika kita memasukkan sembarang nama dan nomor registrasi, begitu tombol OK di-klik, akan segera muncul jendela pop-up yang menyatakan bahwa nomor yang kita masukkan salah. Ini berarti proses/rutin ‘membandingkan’ berada pada tempat antara pada saat tombol OK ditekan sampai dengan munculnya jendela pop-up. Meskipun proses yang terjadi hanya sekejap, ini melibatkan ratusan baris perintah/kode assembly dan mungkin puluhan fungsi rutin. Jadi kita harus masuk ke badan program tepat setelah tombol OK ditekan, untuk bisa menelusuri instruksi yang terjadi guna mencari nomor registrasi yang ‘benar’.
Untuk bisa melakukan ini diperlukan hardware level debugger, yakni SoftIce dari Nu Mega. SoftIce bekerja secara residen memonitor program-program yang aktif, jadi harus di-setup dulu melalui boot level (autoexec.bat). Bila komputer di start, maka otomatis SoftIce akan berjalan secara residen dan memonitor setiap program yang berjalan. Perintah untuk memunculkan atau menutup jendela SoftIce adalah ‘Ctrl-D’ (toggle). Setelah SoftIce terinstal dan terkonfigurasi dengan baik, live cracking siap dimulai.
Pertama-tama jalankan dulu program yang hendak di-crack. Ada program yang langsung memunculkan jendela yang meminta User Name dan Register Number, ada pula yang tidak langsung dan ini berarti anda harus mencari dulu di bagian mana program menawarkan alternatif ini. Carilah di bagian menu Help. Ada pula yang memunculkan jendela registrasi pada saat anda melakukan ‘operasi’ pada program misalnya menyimpan (save file), mengedit, mengekspor, dan sebagainya.
Pada saat muncul jendela yang meminta user name dan nomor registrasi, isikan nama dan nomor yang anda kehendaki (dummy), tetapi jangan dulu meng-klik tombol OK. Kemudian munculkanlan jendela SoftIce dengan menekan ‘Ctrl-D’. Buzz… SoftIce akan muncul di Windows anda. Pasanglah sebuah atau beberapa breakpoint dengan memasukkan perintah ‘bpx’ pada SoftIce kemudian tekan ‘enter’. Harap diingat bahwa pemasangan breakpoint ini pun sifatnya trial & error. Artinya program (yg akan di-crack) bisa langsung bereaksi, bisa pula tidak.
Breakpoint-breakpoint yang sering digunakan misalnya: :bpx getdlgitemtext (16 bit) :bpx getdlgitemtexta (32 bit) :bpx getwindowtext (16 bit) :bpx getwindowtexta (32 bit) :bpx hmemcpy (VB program) :bpx messagebeep (jika terjadi beep saat dimasukkan reg.# yg salah) dll
Setelah memasang breakpoint pada SoftIce dengan mengetikkan perintah tadi, sekarang kembali ke program yang akan di-crack dengan menekan ‘Ctrl-D’. Nah sekarang siap untuk menekan tombol OK atas nama dan nomor yang dimasukkan tadi. Klik OK. Bila anda beruntung dengan breakpoint yang anda pasang, buuzz… anda akan langsung lompat ke jendela SoftIce lagi. Bila tidak beruntung, program tidak bereaksi apa-apa dan jendela pop-up yang menyatakan nomor anda salah tetap muncul. Berarti breakpoint anda tidak berhasil dan anda harus mencoba dengan breakpoint yang lain.
Di jendela SoftIce, anda akan melihat di mana program di-break, yakni tepat saat baris perintah pemunculan jendela pop-up (yg menyatakan reg.# salah) akan dieksekusi. Maka proses pencarian dimulai, yakni dengan men-trace dan melihat baris demi baris instruksi. Pertama-tama tentu harus di-trace ke awal dimana atau kenapa sampai baris perintah pop-up ini dieksekusi. Setelah sampai ke baris asal, kemudian di-trace dan dilihat satu persatu baris instruksi. Termasuk juga memeriksa call-call rutin instruksi dan jump-jump yang ada.
Dalam proses ini kita akan menemukan berbagai proses yang terjadi, yakni metode yang digunakan si program dalam memproteksi dirinya dari nomor registrasi yang salah. Ada penjumlahan, pengurangan, pemberian alamat memori, membandingkan karakter awal register, menghitung panjang atau jumlah karakter register, dan seterusnya, sampai akhirnya menemukan nomor register atau Key code yang sebenarnya. Harap diingat bahwa ini bukanlah proses yang mudah tapi butuh kesabaran dan ketelitian dan selalu trial & error, apalagi bagi para cracker pemula. Namun mungkin disitulah asyiknya.
Tombol-tombol fungsi yang sering digunakan dalam SoftIce: F10 = trace baris demi baris F11 = trace ke awal fungsi F12 = trace ke awal routine F8 = trace ke awal suatu call function F2 = menampilkan nilai register memori F5 = mengeksekusi breakpoint
Perintah-peritah yang sering digunakan dalam SoftIce:
:bpx [API kernell] = memasang breakpoint pd kondisi ttt :bpr [memori address] [memori address] = memasang breakpoint pada memori range :bpm [memori address] = memasang breakpoint pd alamat ttt :bc [# of breakpoint or *(all)] = clear breakpoint :bd [# of breakpoint or *(all)] = disable breakpoint :d [memori address atau memori room] = melihat nilai register dlm hexa
[memori address atau memori room] = melihat nilai register dlm desimal :ed [memori address atau memori room] = mengedit nilai register :a [memori address] = mengedit instruksi assembly dll.
‘Ruang’ memori (register) yang harus selalu diperiksa dan diamati perubahannya pada saat men-trace: EAX, EBX, ECX, EDX, EBP, EDI, ESI dll. Jika anda telah berhasil ‘menemukan’ nomor yang benar, keluarlah dari SoftIce dan bersihkanlah semua breakpoint dengan perintah :bc *, kemudian masukkan nomor registrasi yang benar itu, klik OK, maka anda telah terregistrasi dengan baik. Selamat! Alamat search engine untuk mencari berbagai tools yang diperlukan dalam cracking & underground stuff lainnya, atau bila anda ‘putus asa’ dan menyerah, anda dapat mencari Key Generator atau S/N di situs-situs underground, dan bila beruntung anda dapat menemukannya tanpa susah-susah nge-crack sendiri :
crackportal.com , bestcrack.net, cracks.am, dll.
?&( 2000 GondhesInteractive Limited.
Teknologi Yang Rasional Februari 27, 2009
Posted by gondhess in Uncategorized.add a comment
Seorang teman pamer bahwa PC-nya adalah komputer tercanggih saat ini, yang sudah mengaplikasikan teknologi-teknologi terbaru. Ketika ditanyakan teknologi baru apa saja yang diterapkan. Dia bilang tidak tahu persis, tapi menurut penjualnya, sudah mencakup semua teknologi yang belakangan diulas oleh majalah-majalah komputer. Teman yang satu ini memang sebenarnya tidak begitu mengerti komputer. Sering percaya 100% dengan apa yang dikatakan iklan-iklan atau rayuan penjual. Asal dibilang canggih, serta menyebutkan angka-angka MHz tinggi, dia bisa langsung tertarik. Ketika ditanyakan harganya, dia menyebut angka yang cukup tinggi. Tetapi wajar saja bila PCnya memang betul-betul canggih.
Namun cukup mengagetkan mengingat dia bukanlah pengguna komputer yang intensif. Paling-paling hanya untuk mengerjakan tugas-tugas kantor yang belum selesai, surfing internet, atau sesekali memutar musik atau film. Dengan keperluan seperti itu, sebuah PC kelas ‘dua’ saja sudah lebih dari cukup. Jadi kehebatan mesin miliknya seolah-olah menjadi mubazir.
Tengoklah PC/Home Computer anda. Mungkin belum mengusung teknologi yang paling baru, tapi lihatlah dengan lebih teliti. Berapa banyak perangkat keras yang terpasang, dan berapa banyak program/software yang terinstall? Renungkan, dari sekian banyak kapasitas itu, hanya berapa persen yang memang benar-benar dipakai secara intensif? Betulkah lebih banyak yang ‘menganggur’ sebagai ‘hiasan’ saja?
Dewasa ini, perkembangan kecepatan dan kapasitas PC memang luar biasa. Pada satu sisi, perkembangan software yang semakin lengkap dan canggih membutuhkan resource yang semakin tinggi. Pada gilirannya dibutuhkan perangkat keras yang bisa menjalankan aplikasi tersebut dengan baik. Hal ini menciptakan kebutuhan akan hardware dengan performa yang tinggi pula.
Prosesor dengan arsitektur x86 sudah mencapai puncaknya. Generasi terakhir bahkan sudah menerapkan teknologi hyperthreading dan dual core technology, yang membuat kemampuan prosesor tersebut semakin tinggi. Dalam hal memori, teknologi dual channel DDR semakin banyak dipakai. Teknologi ini mampu mengimbangi dengan baik kinerja prosesor dengan kecepatan di atas satu-dua Gigahertz, setara dengan jenis Rambus, bahkan bisa lebih tinggi.
Untuk bidang grafis, selain dengan makin maraknya pemakaian video memori (VRAM) jenis DDR, port AGP-nya saat ini telah menginjak generasi ketiga, alias AGP 8x, lalu ada teknologi baru PCIe alias PCI Express dengan kecepatan berlipat. Kemampuan ini tentu mampu memproses grafis dengan halus, indah dan cepat. Tak ada rumusnya dengan gambar yang tersendat-sendat, meski untuk aplikasi atau game-game kelas ‘berat’.
Hanya itu? Tidak. Untuk mengimbangi kerja yang serba cepat, sistim penyimpanannya (storage) juga turut beringsut. Pemakaian harddisk dengan 7200 rpm atau yang 10K rpm, makin menjadi hal yang ‘biasa’. Demikian juga dengan koneksi kabelnya, yakni serial ATA, yang berkemampuan di atas ATA V (133), atau juga memakai jenis SCSI. Penggunaan CD ROM Drive kini sudah lazim diganti dengan DVD ROM Drive yang lebih cepat.
Belum lagi koneksi kabel ke peripheral eksternal yang kini serba USB atau juga penggunaan Fire Wire.
Untuk apa semua itu? Kenyamanan? Kecepatan? Kemudahan?
Bila anda bekerja dalam bidang digital artwork, studio film atau animasi, dan sejenisnya, berbagai ‘kemewahan’ dalam teknologi PC tersebut bisa jadi masih terasa kurang. Tapi bila anda seorang pekerja kantoran biasa, yang menggunakan PC untuk mengetik, membuat surat atau laporan, worksheet, surfing internet dan sesekali main game atau memutar film, rasa-rasanya segala kecanggihan yang ‘berlebih’ itu menjadi mubazir.
Anda membayar terlalu mahal untuk sesuatu yang tidak pernah digunakan, yakni kapasitas (resource) berlebih yang ‘nganggur’ di PC anda. Dan ini jelas pemborosan. Hal seperti ini marak terjadi. Lihatlah kantor-kantor yang bergegas meng-upgrade jajaran PC-nya. Kecanggihan teknologi tersebut selalu menawarkan kecepatan, kemudahan, kenyamanan, dan kapasitas yang hampir tak terbatas. Namun belum ada penelitian apakah produktivitas seseorang menjadi meningkat dengan dijejali peralatan canggih semacam itu. Bila menilik hasil akhirnya (output), mungkin iya. Tetapi peningkatan output tersebut hampir selalu merupakan hasil kerja teknologi itu sendiri, sementara orang yang menjalankannya, malah akan lebih banyak santai-nya, dus dengan demikian, produktivitas orang itu sendiri malah dapat dikatakan menurun.
Benarkah seperti itu?
Sebagian besar mungkin betul. Sebagian yang lain belum tentu. Bila sebuah kantor atau organisasi menjalankan aktivitasnya dengan baik, hal-hal tersebut tentunya bisa diantisipasi dengan berbagai cara. Para pegawai yang aktivitasnya menurun – karena banyak pekerjaannya diselesaikan lebih cepat oleh perangkat teknologi – dapat ‘dipaksa’ untuk mengerjakan hal-hal yang lain. Dengan demikian, selain hasil output yang meningkat, produktivitas manusianya juga dapat dikembangkan. Jadi tidak ada kapasitas yang ‘menganggur’ dalam organisasi tersebut.
Bagaimanapun, untuk menggunakan teknologi yang selangkah lebih maju, manusianya (user) juga harus dipersiapkan dengan baik. Tanpa kesanggupan user untuk memanfaatkannya seoptimal mungkin, perangkat yang canggih selalu menghasilkan kemubaziran, atau pengangguran resource/kapasitas yang tersedia. Padahal kita sudah menguras kantong cukup dalam untuk memasang perangkat tersebut.
Teknologi Yang ‘Menjebak’
Sebagai konsumen teknologi, sering kita ‘terjebak’ dalam situasi yang mengikat. Teknologi-teknologi baru berkembang ‘terlalu’ cepat, padahal kita belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi ‘lama’ dengan optimal. Berbagai fasilitas dan kemampuan teknologi yang sedang kita pakai tak pernah dengan sepenuhnya kita gunakan kapasitasnya. Tetapi di pasaran sering sudah muncul teknologi yang lebih baru, yang menawarkan hal-hal memikat. Sehingga pada saat yang bersamaan kita merasakan bahwa perangkat yang kita pakai akan menjadi nampak kuno sekali, jelek, dan tidak optimal.
Belum lagi soal standardisasi. Vendor besar, dengan penemuan-penemuannya hampir selalu menerapkan standar tersendiri, yang sering berbeda dengan yang lain. Pada suatu saat mungkin muncul perangkat baru, dengan standar teknologi baru yang (waktu itu) sangat bagus, dan dukungan resource yang luas. Kita mungkin sangat tertarik dan menggunakannya. Namun beberapa waktu kemudian, vendor besar yang lain muncul dengan teknologi dan standarnya sendiri, yang tidak selalu kompatibel dengan lainnya. Bahkan mungkin teknologi yang satu ini mengklaim lebih baik dan dukungan yang lebih luas. Alhasil, kita seperti merasa terjebak dan dipermainkan oleh para pemain teknologi. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, selain dengan mengganti seluruh perangkat yang ada kalau mau.
Karena itu, menyikapi munculnya teknologi baru, baik di bidang hardware atau software yang datang bagai air bah setiap saat, kita harus tetap rasional. Yang paling penting terutama adalah kita harus mengenali kebutuhan-kebutuhan kita sendiri (di bidang teknologi ini) baik saat sekarang maupun di masa yang akan datang. Selain itu, setidaknya kita juga harus lebih ‘mengenal’ teknologi-teknologi yang ada di pasaran dan perkembangannya. Dengan demikian kita bisa menggunakan teknologi yang kita perlukan saja, serta mengantisipasi kemungkinan up-grade di masa mendatang.
Kadang-kadang, menunggu sebuah teknologi menjadi populer dahulu tak ada salahnya. Setidak-tidaknya jangan langsung main tembak dengan sesuatu yang baru muncul. Tentu saja mereka akan banyak mengklaim dan mengembar-gemborkan kecanggihannya, tapi biarkan dulu waktu (atau pasar) mengujinya. Baru kalau hal tersebut terbukti menjadi standar yang dipakai secara luas, kita bisa memper-timbangkannya. Itu kalau kita tidak mau terjebak dan merasa dipermainkan.
EKONOMI UNDERGROUND Februari 26, 2009
Posted by gondhess in Uncategorized.add a comment
Ketika awal mula sebuah Personal Computer (PC) berhasil diwujudkan di sebuah garasi, barangkali tak terbayangkan bahwa banyak sisi dan aspek juga akan segera lahir. Kini, semua jelas bisa terlihat ketika pemakaian PC sudah begitu menjamur. Ada berbagai ‘penyakit’ yang menyertainya. Teknologi, umumnya bersifat netral, sehingga ketika orang memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan dan mempermudah kehidupannya, banyak pula yang memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri dengan melakukan aktivitas yang bisa dikategorikan kejahatan.
Ada penyebaran virus-virus, ada pembajakan software, ada aktivitas hacking dan cracking, carding dan sebagainya. Semua melahirkan semacam aktivitas ekonomi tersendiri, karena mau tak mau orang bisa memanfaatkan semua itu dengan tujuan komersial.
Misalnya Virus komputer! Siapa yang mula-mula iseng membuatnya? Awalnya barangkali secara tak sengaja ditemukan. Dalam proses pemrograman software, selalu timbul apa yang disebut ‘bug’. Sebuah set instruksi yang tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, dan mengacaukan program. Nah dari sini lantas timbul pemikiran iseng, para pemrogram tak hanya memperbaiki bug, tapi kemudian malah mengutak-atik bug tersebut, maka lahirlah apa yang kemudian dinamakan virus.
Sesuatu yang mulanya barangkali hanya iseng dan sekedar main-main, kini sudah merajalela, dan sering kemudian berkembang menjadi sesuatu yang sangat serius dan membahayakan. Virus pada saat ini, sering bisa merakibat fatal, merusak, dan bisa dijadikan ‘senjata’ untuk menyerang hal-hal tertentu milik pihak lain.
Hacking! Siapa yang tidak pernah mendengar istilah ini. Apalagi di dunia maya (internet). ‘Kode etik’ hacking sebenarnya cukup’sopan’. Mereka hanya dibenarkan ‘mengintip’, dilarang untuk mengutak-atik, apalagi merusak atau mencuri data milik orang lain, dan tidak boleh meninggalkan jejak dalam bentuk apapun. Tetapi siapa yang bisa tahan dengan godaan. Bahkan hacker pemula yang iseng, dengan bangganya memasang nama yang serem-serem pada situs yang bisa di-deface-nya. Istilah hacking yang pada awalnya cukup ‘bersih’, kini hampir identik dengan kejahatan internet, hingga setiap pelaku di dunia maya cukup ngeri setiap mendengar istilah hacking.
Cracking! Sudah benar-benar dimanfaatkan untuk kejahatan software. Hampir semua pengguna PC (di Indonesia!) pernah memanfaatkannya. Apalagi kalau bukan pembajakan software. Para cracker sendiri awalnya mungkin hanya sekedar menjajal kemampuan, atau menguji kehebatan suatu proteksi program. Tapi lama-kelamaan timbul semacam kebanggaan tersendiri bila berhasi nge-crack suatu program, soalnya memang harus dilakukan dengan susah payah juga. Lalu memasang dan memamerkan di internet. Sebuah bentuk pamer ‘prestasi’. Orang yang berjiwa komersil kemudian memanfaatkannya. Jadilah keping-keping CD program dengan harga sangat murah (dibandingkan originalnya), sekaligus dengan kode-kode crack-nya.
Aktivitas kejahatan teknologi, terutama dalam hal komputer, ternyata telah menimbulkan semacam aktivitas ekonomi tersendiri, baik yang legal maupun illegal. Yang legal tentu saja dapat dilihat dari munculnya perusahaan-perusahaan antivirus, riset teknologi software terbaru anti hacking atau cracking dan sebagainya. Yang illegal jelas sekali, misalnya pembajakan software, pencurian data atau file rahasia, carding, dan banyak lagi yang lainnya.
Ternyata dari aktivitas semacam itu melibatkan perputaran bisnis dengan omzet yang sangat besar juga. Bahkan mungkin lebih besar dari omzet aktivitas yang legal. Bisa dipahami mengapa para vendor menjerit-jerit agar pembajakan software diberantas
TEKNOLOGI YANG MEMBEBASKAN Februari 26, 2009
Posted by gondhess in Uncategorized.add a comment
Kemajuan teknologi bagaimanapun adalah seperti pisau bermata dua, bisa digunakan demi tujuan kebaikan peradaban manusia, bisa pula dipakai untuk tujuan-tujuan merusak peradaban itu sendiri. Hal ini tidak terelakkan mengingat ada bermacam-macam sifat manusia yang menghuni dunia ini, dan umumnya hanya peduli pada dirinya sendiri.
Orang-orang yang ‘melek’ teknologi, selalu hanya sebagian kecil dari populasi yang ada. Sementara kemajuan teknologi yang berkembang begitu pesat membutuhkan lebih banyak orang yang bisa menanganinya. Ketidak seimbangan ini berakibat jelas : selalu ada yang menjadi ‘korban’ teknologi akibat ketidaktahuannya.
‘Korban’ di sini bisa dalam arti menjadi objek penipuan terselubung, menciptakan ketergantungan dan akhirnya benar-benar menjadi korban yang sesungguhnya. Paradigma yang umumnya selalu diterima adalah bahwa semakin maju atau semakin canggih suatu teknologi berarti semakin baik pula peralatan yang mengadopsi teknologi yang bersangkutan.
Di dunia Personal Computer (PC) misalnya. Hampir menjadi pemahaman umum baik di kalangan awam, maupun kalangan ‘orang dalam’ bahwa, semakin cepat semakin baik, atau semakin besar akan makin hebat, semakin lengkap maka semakin yahud, dan seterusnya. Iklan PC yang mengusung teknologi terbaru akan membuat orang berdecak kagum dan bikin ngiler. Apalagi harga-harganya hanya pada awal release teknologi tersebut saja kelihatan mahal, tetapi dalam waktu sebentar saja akan semakin terjangkau.
Bayangkan jika ada seseorang yang membeli PC dengan seribu kecanggihan dan teknologi terbaru, yang menghabiskan ongkos berjuta-juta, ternyata hanya dipakai sesekali, itu pun hanya untuk mengetik atau surfing internet. Prosesor yang ber-gigaherts, memory yang ber-dual channel DDR, atau VGA yang AGP 8x, terasa sangat mubazir! Semua itu demi apa yang dinamakan kecanggihan teknologi terkini. Sesuatu yang barangkali bagi sebagian orang belum perlu, meski bagi sebagian yang lain bisa jadi masih kurang.
Masalahnya boleh jadi terletak pada kita sendiri yang diam-diam merasa senang dan bangga bila memakai teknologi mutakhir, meski belum memerlukannya. Secara langsung atau tidak, kita sudah terjebak dalam model ‘penipuan’ yang paling canggih. Para produsen atau vendor-vendor besar diam-diam ‘mengikat’ kita dalam ketergantungan.
Teknologi Yang ‘Merdeka’
Ketika para pakar Linux di Indonesia meluncurkan distro ‘Trustix Merdeka’ dan juga saat Onno W. Purbo merilis ‘VoiP Merdeka’, umumnya kita tidak begitu ‘peduli’ dengan embel-embel ‘merdeka’ tersebut. Itu hanya sebuah nama, dan mungkin sekedar menunjukkan kebanggan atau nasionalisme keindonesiaan.
Tetapi makin lama makin terasa ‘arti’ dari kata medeka tersebut. Kita selama ini begitu terikat dan bergantung kepada teknologi paketan, yang sudah jadi dan tinggal pakai. Kita sudah terlalu lama terlena oleh kemudahan-kemudahan, sehingga lupa belajar, dan menjadi konsumen rakus yang notabene adalah makanan empuk para produsen teknologi.
Kita sering tidak peduli bagaimana sebuah teknologi bekerja, bagaimana cara membuatnya, apa saja yang perlu dilakukan, dimana kelemahan dan kelebihannya, dan sebagainya. Meskipun hal ini sesungguhnya terlalu rumit bagi sebagian besar orang, namun tak ada salahnya untuk sekedar mengetahui logika-logika teknologi, aplikasi program dan sebagainya. Sehingga ketika muncul problem-problem ringan kita tak selalu harus bergantung kepada vendor. Sehingga ketika muncul iming-iming upgradeatau update terbaru, kita bisa menentukan apakah perlu atau tidak.
Linux, atau program open source lainnya adalah contoh yang paling bagus dari sebuah teknologi yang memberikan kemerdekaaan pada para penggunanya. Dengan kata lain, ia adalah teknologi yang membebaskan. Kita bisa memodifikasi sesuai kebutuhan, jadi kita bisa mendapatkan yang memang perlu saja, dan tidak perlu membayar hal-hal yang sifatnya hanya kosmetik.
Source yang terbuka memungkinkan kita belajar lebih banyak, dan tahu lebih banyak. Sekaligus mengetahui kelemahan dan kekuatan sistem yang kita bangun. Kita hanya memasang yang perlu, sekaligus memangkas yang tidak berguna. Dengan demikian kita bisa menghemat penggunaan source sistem milik kita, yang bisa kita cadangkan untuk upgrade mendatang.
Teknologi software lainnya, umumnya ‘mengikat’ dan jelas tidak membebaskan kita akan adanya pilihan-pilihan. Contohnya adalah ‘saudara’ yang selama ini paling akrab : Windows-nya Microsoft. Makin kesini (= makin baru versinya), bukannya semakin efisien dan simpel, tapi tambah gemuk dan merepotkan (dan tentu saja makin mahal). Kita selalu dibikin repot oleh persyaratan-persyaratan kebutuhan resource yang makin tinggi, yang terkadang mengharuskan upgrade hardware. Serta harga mahal yang sebagian besar bukan untuk membayar ‘fungsi/fasilitas’ baru, tapi untuk membayar kosmetik (tampilan grafis) dan paket-paket bundelan (yang bisa kita dapatkan gratis di jagat maya).
Windows dikenal sangat tertutup, bahkan dokumentasinya sering tidak mengungkapkan apa-apa. Meskipun berjibun buku yang telah ditulis tentangnya, umumnya adalah berisi cara-cara memakai atau bekerja dengan Windows, bukan tentang Windows-nya sendiri.
Satu-satunya jalan barangkali adalah meng-hack Windows, dengan berbagai macam utility. Tentu saja cara ini tidak ‘dihalalkan’, tapi setiap orang yang penasaran dan ingin tahu akan melakukannya dengan diam-diam. Dan internet ternyata menyediakan segalanya. Bahkan di sebuah situs search engine underground, pernah ditawarkan buku tentang hacking windows secara besar-besaran. Nah dari dokumentasi yang ‘tertutup’ ini baru kita bisa sedikit mengerti jeroannya. Toh itu baru sebagian kecil saja yang bisa kita ketahui. Yang jelas, kita tidak ‘merdeka’.
Teknologi Yang ‘Membebaskan’
Seperti dalam dunia sastra yang pernah punya jargon ‘Sastra Yang Membebaskan’, alangkah indahnya bila dalam dunia teknologi kita memiliki pula teknologi yang membebaskan. Bebas menentukan teknologi yang akan kita pakai, bebas membeli hanya yang diperlukan, membayar hanya yang dipergunakan. Sulit?
Tentu saja! Terhadap pasar, umumnya vendor hanya punya lima kata : take it or leave it. Mungkin baru pada pembeli besar saja mereka bisa lebih akomodatif. Karena ada kesempatan memperoleh keuntungan yang terus menerus dengan menciptakan ketergantungan yang makin mengikat.
Kecenderungan di masa mendatang nampaknya juga makin sulit diharapkan. Alih-alih memberi sedikit ‘kemerdekaan’, para vendor besar justru malah saling bekerja sama, yang pada gilirannya akan berdampak pada makin terikatnya kita terhadap pemakaian suatu produk, atau standar yang diciptakan perusahaan-perusahaan besar. Apalagi dengan munculnya konsep DRM (Digital Right Mangement) yang sangat membatasi konsumen.
Aktivitas ‘miring’ seperti cracking dan pembajakan memang sangat tidak baik, sama saja dengan pencurian. Bahwa para produsen atau vendor dirugikan memang iya. Namun keuntungan yang mereka keruk dari konsumen sebenarnya tak pernah berkurang. Mereka ribut dan ‘panas’ karena kesempatan untuk memperoleh untung yang lebih banyak seringkali tersendat oleh aktivitas ‘miring’ itu. Sebuah hal yang biasa dalam sistim bisnis kapitalisme.
Jalan keluar? Bikin program sendiri! Kalau belum bisa, gunakan saja program-program open source, atau yang beratribut GNU Public Licence. Dengan itu, anda bisa turut membangun sebuah program atau sistim yang khas, sesuai kenginan anda. Ini adalah sebuah rintisan, sebuah jalan panjang menuju teknologi yang membebaskan.
Jakarta, Juni 2003
Sepanjang Jalan Kenangan Februari 2, 2009
Posted by gondhess in Uncategorized.add a comment
Ketika saya berdesakan, bahkan bergelantungan naik bis kota atau angkutan umum lainnya yang penuh sesak, dengan kewaspadaan yang distel tinggi-tinggi (takut kecopetan), saya melongok ke luar jendela. Di kiri kanan berseliweran mobil-mobil pribadi, mewah atau nggak, yang pasti jelas lebih nyaman, dan dingin. Tiba-tiba saja teringat nyanyian si Andi /rif, “lama aku membayangkan, betapa nikmatnya di dalam sana…” Sambil menyeka keringat yang bercucuran segede-gede jagung, saya manggut-manggut. Andi /rif – kini – mungkin tak perlu mengalaminya lagi, kecuali untuk shooting video klipnya. Dulu, ia mungkin memang pernah mengalaminya.
Saat kebetulan mendapat tumpangan naik mobil teman, nggak mewah sih, tapi jelas tidak berdesakan dan bisa duduk santai diselimuti hawa AC yang nyaman, diam-diam saya juga melongok ke luar jendela. Kaca gelap berlapis v-kool itu menampilkan gambar yang sama, orang-orang berdesakan, bahkan bergelantungan di bis kota. Tiba-tiba saya melihat diri saya yang terjepit dan terselip diantara orang-orang berdesakan itu, menatap nanar dan penuh dendam ke arah saya sendiri. Saya tersipu-sipu dan tersenyum kecut. Saya yang di sana, tak bakalan bisa melihat saya yang di sini, di balik kaca yang tebal dan gelap, duduk nyaman dan santai, sementara mobil terus melaju dengan cuek. Dunia kita memang berbeda, bung! Meski kita sama-sama menelan tiga piring nasi sehari.
Beberapa saat kemudian, lampu merah, berbagai jenis kendaraan mendesak-desak di sekitar. Mau tak mau terpaksa kembali memandang keluar jendela. Lagi-lagi pemandangan itu, tatapan itu, yang sungguh menyolok mata. Dalam kesunyian dan kenyamanan suara blower AC yang membikin ngantuk, tiba-tiba saya merasa gelisah, gerah dan tak nyaman. Benarkah tempat saya di sini? Ini memang salah saya sendiri. Saya bukan pengusaha, bukan bisnisman, bukan pegawai, bukan pejabat, bukan pula eksekutif muda. Seandainya saya menjadi salah satu saja dari profesi itu, saya mungkin akan sibuk baca koran, mereview laporan rapat, merencanakan meeting, telpon sana-sini dengan handphone, menegosiasi kontrak, janjian ketemu mitra bisnis, janjian makan siang, mengecek rekening bank, memberikan instruksi pada sekretaris, menuliskan rencana pada agenda atau PDA, dan lain-lain, dan lain-lain. Jadi tak ada kesempatan untuk melongok keluar jendela, apalagi untuk meladeni pandangan-pandangan nanar semacam itu.
Akan halnya teman saya, ia sibuk belaka dengan roda kemudinya. Mula-mula memang kita ngobrol, tentang berbagai hal, tapi begitu bahan obrolan habis, ia mulai sibuk dengan handphone-nya. Usai dengan HP-nya, mulailah ia mengutak atik stereo mobilnya, dan jreeeng!! Mulutnya sibuk komat-kamit mengikuti lagu, kadang ditingkah dengan siulan. Saya mencoba untuk turut larut, tapi apa daya. Seluruh jalanan mengepung dengan pemandangan yang menyesakkan. Lantas tiba-tiba semuanya akan selesai begitu tiba di tujuan.
Ketika saya naik bis kota, dan bis masih ngetem di terminal, seolah berpuluh-puluh pengamen menyerbu. Ngamen model baru hanya bermodal berani bicara dan tidak malu-malu. Dulu, pengamen akan menampilkan lagu terbaik dan permainan terindah yang bisa dikuasainya. Kini, katanya sih bukan dan tak mau ngemis, tapi dengan hanya modal berkoar, seperti pidato-pidato para pejabat, tentang betapa dia adalah penganggur(an), daripada bertindak kriminal seperti mencopet atau menodong, dia minta bantuan seikhlasnya sambil menyodorkan tangan dari bangku ke bangku. Seikhlasnya, tapi mencowel-cowel pundak orang yang nggak mau ngasih. Seikhlasnya, tapi ‘pidato’nya bernada mengancam seperti, ‘tolong hargai kami’ atau ‘daripada kami menodong’ atau ‘jangan sombong atau pura-pura cuek, hargai kami’ dan sebagainya. Kadang-kadang ada yang menyitir puisi sebait dua bait. Kadang-kadang malah tak melakukan apa-apa sama sekali tapi langsung minta bantuan. Dan mereka ogah disamakan dengan pengemis. Saya juga pengangguran, tapi untunglah berbagai rezeki dari kiri kanan, atas bawah, masih membuat saya setia untuk bertahan.
Bis melaju, makin lama makin bertambah penuh. Di sekitar, saya melihat lagi berseliweran mobil-mobil pribadi. Lama aku membayangkan, betapa nikmatnya oh di dalam sana. Kondektur mulai menagih ongkos. Pemandangan jamak di manapun, ketika penumpang belum membayar ongkos, ia akan diperlakukan dengan manis. Ia akan dicarikan tempat duduk yang masih kosong, dengan wajah dan suara yang ramah. Ketika kita sudah membayar, kita menjadi sama saja dengan barang. Kita disuruh mepet-mepet dan berdesakan dengan suara yang tidak manis lagi, bahkan terdengar kejam dan sadis, seolah memerintah dengan tegas dan tega. Sudah tak berharga lagi. Kalau bisa, turun dong cepat-cepat, biar penumpang yang baru (yang masih bisa ditagih ongkos) bisa naik.
Dari jendela depan saya samar-samar melihat tulisan berwarna merah, dengan latar putih, di belakang sebuah bus kota : ‘sesama bus kota dilarang saling mendahului’ ketika tiba-tiba tulisan itu menjadi semakin jelas dan fokus. Rupa-rupanya bus yang saya tumpangi sedang ngepot menggeol dan mendahului bis tersebut dengan gila-gilaan. Tentu saja secara reflek saya mengeratkan pegangan.
Ketika saya mendapat kesempatan menumpang mobil teman lagi, saya bela-belain membawa koran. Jadi ketika asyik melaju atau berhenti di lampu merah, saya sedang menekuni berita, berlagak membaca dengan serius. Tapi apa daya, berita yang ada hanyalah soal-soal politik yang sudah kayak dagelan. Persidangan kasus korupsi yang bak sinetron (Indonesia). Ekonomi yang makin morat-marit. Olah raga yang prestasinya turun terus. Kenestapaan di pengungsian. Teror di derah konflik. Kriminal di jalan raya. Kejahatan di rumah tangga. Dada saya sesak, lalu diam-diam mencuri pandang ke luar jendela.
Mata itu, tatapan itu, dari wajah saya sendiri, masih menyorot dengan nanar dan penuh iri serta dendam.
Teman saya, asyik dibelakang kemudi. Sibuk dengan HP, lantas menatap jalan dengan saksama, seolah menu restoran yang harus dilahap dengan urutan yang baku, pertimbangan antara rasa dengan harga, antara kesempatan melejit dengan resiko tabrakan atau serempetan. Baginya, jalanan adalah musuh yang harus ditaklukkan, harus dukuasai dan dikendalikan dengan nikmat. Musuh saya, mungkin adalah perasaan saya sendiri. Saya memejamkan mata. Gelap. Jazz mengalun dari stereo mobil. Lama-lama saya mengantuk dan jatuh tertidur tanpa mimpi.
Di bis kota, saya menyeka keringat yang mengalir segede-gede jagung. Seperti biasa, gerah dan penuh sesak. Mobil-mobil mengkilap, dengan kaca gelap, menderu di sekitar. Saya teringat lagi lagunya Andi /rif, “lama aku membayangkan, betapa nikmatnya oh di dalam sana… lama aku membayangkan, betapa nikmatnya oh di dalam sana….. oooh…”
Dan bila ini salah jurusan, saya harus kembali lagi dari awal.
Apa yang bisa anda ‘baca’ dari sekelumit pengalaman saya itu?
è & © 2002 By Yadhie M. Setiyadi
Rawabebek Pulogebang
Sholat dalam Perspektif Januari 27, 2009
Posted by gondhess in Wacana Muslim.add a comment
Sholat adalah tiang agama (Islam). Setiap muslim yang telah akil baligh diwajibkan Sholat lima waktu. Ia bahkan merupakan salah satu rukun Islam. Rukun adalah kewajiban, yang merupakan syarat mutlak agar seseorang bisa disebut sebagai beragama Islam (muslim). Ini berarti bila anda melalaikan salah satu saja dari rukun-rukun tersebut, bisakah masih disebut muslim, atau berhak-kah menyebut diri Islam?
Sebagai salah satu entitas dalam beragama, sholat juga bersifat pribadi. Artinya konteks Sholat dalam kehidupan merupakan aspek hablum minalloh. Berhubungan langsung dengan Sang Pencipta. Menghadap Sang Khalik. Bacaan-bacaan dalam sholat pun pada intinya adalah pujian, doa dan permohonan seorang hamba kepada Tuhannya.
Cobalah perhatikan mulai dari awal. Pada saat niat sholat, pujian kepadaNya kita sampaikan, Allohu akbar. Hanya Engkaulah yang maha Besar. Hambamu ini, yang hina dan tidak lebih dari setitik debu dihadapanMu, berniat menghadap kepadaMu ya Rabbi. Kemudian dalam doa iftitah kita bertekad dan berikrar saat menghadapNya, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, serta matiku hanya untukMu ya Allah. Tak ada sekutu bagiMu dan tak ada yang patut disembah selain Engkau.
Alhamdulillah. Segala pujian kita panjatkan atas segala karuniaNya. Atas kehidupan alam semesta beserta isinya. Atas segala Rahmat dan kasih sayangNya. Karena tak ada yang lain yang patut disembah dan dimintai pertolongan, maka, Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Maka tunjukilah kami Jalan yang lurus, yang Engkau ridhoi, dalam kehidupan ini. Demikian kurang lebih Al Fathihah.
Kemudian kita ruku’. Tertunduklah kita dihadapan segala kebesaran dan keagungan Allah yang tiada banding. Maha suci Allah, Tuhanku yang Maha Agung. Hambamu yang lemah ini membungkuk dihadapanMu. Maha mendengar Engkau ya Allah atas segala puji-pujian hambaMu terhadapMu, karena hanya Engkaulah muara dari segala puji-pujian. Demikian dalam i’tidal, memberi keyakinan bahwa Allah mendengarkan hambaNya. Lalu kita sujud, menyadari betapa tingginya kedudukan Allah dihadapan segala mahlukNya. Maha suci Engkau, Tuhanku yang maha Tinggi. HambaMu yang rendah dan hina ini bersujud di hadapanMu. Dihadapan ketinggian kedudukanMu, aku ini sungguh bukan apa-apa, rata dengan tanah.
Dalam duduk (diantara dua sujud), kita makin sadar, betapa tak berartinya kita dihadapanNya. Betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Betapa tergantungnya seluruh aspek kehidupan kita pada karunia dan kasih sayangNya. Maka tiada lain ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, limpahkanlah rizki dan karuniaMu padaku, bimbinglah dan berilah petunjuk padaku, berikanlah kesehatan jiwa dan raga kepadaku, dan maafkanlah aku, yang telah sekian lama menjadi hambaMu, masih saja banyak melanggar aturan-aturanMu.
Demikian kurang lebih dalam tiap rakaat. Pada akhirnya Sholat ditutup dengan Tahiyat yang menggambarkan betapa segala pujian dan keagungan hanyalah milik Allah. Dalam tahiyat (yang kurang lebih berarti tegur sapa, semacam silaturrahmi antara hamba dengan penciptaNya) ini, Allah berkenan mengizinkan kita menyampaikan segala penghormatan, ‘menyapa’Nya, segala penghormatan, segala doa dan semua yang baik-baik hanya bagi Allah semata. Kita juga tak lupa ‘menyapa’ para nabi, penyampai risalah yang mulia, berbahagialah engkau wahai para nabi, dengan rahmat dan berkahNya. Dan seterusnya.
Dari uraian tersebut memperlihatkan bahwa sholat memang wilayah pribadi. Namun agak aneh bahwa dalam Al Quran, ayat-ayat tentang perintah Sholat selalu diikuti dengan perintah tentang ibadah sosial (hablum minannaas). Menyantuni anak yatim, membayar zakat, menyantuni para faqir miskin, dan sebagainya. Dengan kata lain, sholat an sich mungkin memang individual, tapi maksud dan tujuan kenapa diwajibkan sholat, jelas bersifat sosial. Karena itu sia-sialah sholat bila maksud dan tujuannya tidak tercapai. “Celakalah orang-orang yang sholat!” begitu peringatan Allah dalam QS. Al Maaun. Yakni orang (yang meskipun rajin sholat) bisa menjadi celaka, bila mengabaikan anak yatim, faqir miskin, dan enggan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
Selain bertujuan menajamkan kepekaan sosial, sholat juga merupakan sarana pembersihan diri. Allah yang Maha Besar mengetahui benar kapasitas manusia. Apalagi dalam kehidupan di dunia ini. Begitu banyak godaan yang mengepung. Begitu banyak salah dan dosa yang diperbuat. “Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al Ankabut, 45). Dengan kasih sayangNya kepada hambaNya, Allah memberikan perintah sholat kepada hambaNya, sebagai sarana menyucikan diri kembali. Idul Fitri, kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang bersih.
Kita tahu, fitrah manusia sejak dilahirkan sebenarnya adalah muslim, bersih dari segala macam perbuatan dosa, seorang hamba Allah yang taqwa. Lingkunganlah yang membentuk manusia menjadi bermacam-macam. Oleh karena itu Islam, lewat rukun Islam yang lima itu senantiasa bertujuan membawa manusia kembali kepada Idul Fitri. Pertama, melalui Syahadat, seorang hamba dibawa kepada fitrahnya sebagai manusia yang mengakui Allah semata sebagai Tuhannya, sebagaimana pengakuan ketika manusia pertama diciptakan. Kedua lewat sholat, membawa seorang muslim ke fitrahnya dalam menjalani kehidupan spiritual individualnya, yakni kehidupan yang bersih dan menjauhi kemungkaran. Ketiga melalui zakat, manusia dibawa kepada fitrah kesucian kehidupannya sebagai mahluk sosial, dengan membersihkan harta dari yang bukan haknya. Keempat melalui puasa, seorang muslim dibawa kepada kefitrian hidup jiwa dan raganya. Kelima melalui haji, manusia dibawa kepada kefitrian mengenyam kesempurnaan dalam Islam.
Adanya kewajiban sholat itu sesungguhnya merupakan penolong bagi manusia untuk kembali ke fitrahnya yang suci. Kapasitas manusia untuk senantiasa berbuat dosa dan kemungkaran dalam kehidupan sehari-hari itulah yang mungkin ‘mendorong’ Allah memberikan perintah sholat lima waktu. Agar jiwa manusia senantiasa terjaga dan terkendali dalam menjalani kehidupan ini.
Mengapa mesti lima kali waktu sholat dalam sehari semalam? Sungguh Allah maha mengetahui kapasitas kehidupan hambanya. Memang ada hambaNya yang begitu taat dan sungguh merasa kurang bila hanya diberi kesempatan lima kali menghadapNya. Oleh karena itu diberikanNya kesempatan melalui solat-sholat sunah sepanjang waktu ia mau. Namun manusia umumnya, seperti kita lihat sekarang-sekarang ini, jarang sekali yang bisa demikian. Menjalankan lima waktu saja kadang-kadang terasa berat hingga sering bolong-bolong. Sungguh Maha Bijaksana Allah mewajibkan yang lima waktu itu.
Jika kita perhatikan dengan saksama, rasanya pas sekali kewajiban sholat lima waktu itu dengan irama kehidupan kita sehari-hari pada umumnya. Terutama dalam aspek pembersihan diri, Idul Fitri. Lihatlah waktu-waktu yang telah ditetapkanNya, juga jumlah rakaat yang harus dilakukan. Waktu-waktu yang ditentukan demikian pas dengan saat terjadinya pergantian kosmis, juga irama alam semesta beserta segala isinya, termasuk manusia.
Mulai dengan subuh. Subuh adalah awal hari, pembuka kehidupan. Manusia (umumnya) akan segera mulai bergerak, bekerja mencari nafkah, bersekolah dan menjalani kehidupan dunia ini. Maka segala niat baik itu memang perlu diawali dengan sholat, permohonan kepada Yang Kuasa agar diberi kekuatan, petunjuk, bimbingan dan perlindungan dalam kehidupan hari ini. Dalam konteks pembersihan diri, subuh adalah awal yang suci. Sebelumnya, malam, adalah waktu dimana manusia (normal) umumnya beristirahat dan tidur. Jadi boleh dibilang tidak terlalu banyak godaan atau dosa yang diperbuat. Sangat masuk akal jika proses ritual pembersihan diri ini dilakukan cukup dua rakaat saja.
Kemudian dhuhur. Pergantian arah sinar matahari yang telah bergeser dari titik kulminasinya, jelas mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Irama alam semesta segera akan berubah. Sebuah pergantian waktu juga yang terjadi. Maka seorang hamba sungguh patut untuk menghadap sang Pencipta. Selain mengucap syukur, juga mensucikan diri. Lihatlah setengah hari itu, apa yang telah kita perbuat? Kita larut dalam kehidupan sosial. Berbagai godaan telah datang betubi-tubi. Bermacam-macam kesalahan dan dosa – baik sengaja atau tidak – mungkin telah kita perbuat. Maka Allah menambah ‘porsi’ ritual pembersihan diri itu menjadi empat raka’at.
Demikian pula dengan sholat ‘asar. Kehidupan dunia begitu menyita waktu, dengan godaan yang semakin banyak pula. Saatnya untuk diakhiri, waktu telah hampir sampai, matahari mulai memerah. Empat raka’at mungkin rasanya cukup untuk membawa kita kembali kepada hati yang bersih lagi diridhaiNya.
Antara ‘asar dan maghrib waktu tidak terlalu panjang, kita mungkin dalam perjalanan pulang dari mencari kehidupan. Ini adalah pergantian hari. Matahari mulai tenggelam menyelesaikan edarnya untuk kita, agar bisa menyinari hamba-hambaNya yang lain. Kita tak akan pernah bisa mengelak dari godaan-godaan sepanjang perjalanan. Rasanya, tiga raka’at cukup untuk pembersihan jiwa kita, juga rasa syukur atas segala karunianya sepanjang hari.
Setelah sinar merah di kaki langit hilang, malam benar-benar menunjukkan eksistensinya. Inilah waktu Isya’ pertanda malam akan segera dimulai. Apa yang telah anda perbuat setelah waktu maghrib tadi? Mungkin anda berkumpul bersama keluarga, nonton TV, ngobrol, berbincang-bincang, bahkan nggosip. Mungkin juga bertemu orang-orang di sekitar kita, tetangga kita. Dalam keadaan seperti itu interaksi sosial jadi lebih intensif. Dan sebagai akibatnya, godaan dan dosa mungkin malah lebih banyak terjadi. Rasa-rasanya empat raka’at harus kita jalani untuk mengakhiri hari ini agar kita bersih kembali dan bisa mensyukuri hari ini, sebelum beristirahat tidur malam hari.
Sungguh Allah SWT maha mengetahui apa yang akan terjadi dan dijalani oleh hamba-hambanya. Maka Maha Bijaksanalah Allah yang telah menurunkan perintah sholat lima waktu ini.
ã 2002
Yadhie M. Setiyadi